Kamis, 27 Agustus 2026

Siswa SD Negeri Kumala Makassar Rasakan Pengalaman Belajar Interaktif di Layanan Perpustakaan Sulsel



MAKASSAR — Sebanyak 50 siswa kelas 3 dan 4 SD Negeri Kumala Makassar didampingi tiga pendamping melakukan kunjungan literasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan (DispusArsip Sulsel), Jalan Sultan Alauddin Km 7, Talasalang, Kamis (2/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas peserta didik sekaligus menumbuhkan minat baca melalui pengalaman belajar yang lebih dekat, interaktif, dan menyenangkan.

Kepala sekolah SD Negeri Kumala, Ika Andriany, menyampaikan kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan mengenalkan peserta didik pada berbagai sumber informasi, tetapi juga memberikan pengalaman pembelajaran sains melalui layanan Science Center. Menurutnya, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar yang mempertemukan siswa dengan sumber pengetahuan sekaligus pengalaman belajar yang lebih praktis.

Rombongan disambut Plt. Kepala Bidang Perpustakaan sekaligus Kepala Seksi Layanan Umum dan Multimedia, Hj. Feby Primajanti Thamrin Tantu, di layanan perpustakaan umum. Dalam kesempatan tersebut, Feby memperkenalkan berbagai layanan perpustakaan yang dapat diakses masyarakat secara gratis.


Ia menjelaskan, siswa dapat berkunjung ke perpustakaan pada hari Senin hingga Jumat tanpa harus didampingi pihak sekolah. Perpustakaan juga dapat dikunjungi bersama keluarga sehingga siswa memiliki kesempatan untuk menjadikan perpustakaan sebagai salah satu ruang belajar di luar sekolah.

Usai mendapatkan pengenalan layanan perpustakaan, para siswa diajak berkeliling melihat berbagai fasilitas yang tersedia. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK).

Di layanan PP-IPTEK, rombongan disambut Kepala Seksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin. Para siswa mendapatkan pengalaman belajar sains melalui sejumlah demonstrasi dan alat peraga interaktif.


Kegiatan diawali dengan demonstrasi beberapa eksperimen sederhana, di antaranya Air Ajaib yang Tidak Tumpah, Kantong Plastik Antibocor, dan Gelas Terbalik. Setelah itu, siswa diberi kesempatan mencoba secara langsung berbagai alat peraga yang tersedia.

Antusiasme siswa terlihat ketika mereka bergantian mencoba wahana edukatif, seperti Tebak Tanggal Lahir, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, serta Gyro Extreme. Melalui wahana tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga dapat memahami konsep sains melalui pengalaman langsung.

Sri Wahyuni mengapresiasi antusiasme para siswa yang aktif mengikuti eksperimen dan mencoba berbagai alat peraga selama kegiatan berlangsung. “Kami senang bisa berbagi pengetahuan dengan anak-anakku sekalian. Semangat belajar seperti ini perlu terus dijaga,” katanya.


Salah satu wahana yang paling diminati siswa adalah Gyro Extreme. Wahana tersebut memberikan pengalaman simulasi layaknya astronot di luar angkasa sekaligus memperkenalkan konsep gyroscope kepada peserta.

Melalui wahana itu, siswa diperkenalkan pada prinsip gyroscope, yakni kemampuan benda yang berputar untuk mempertahankan orientasi atau arah serta melawan pengaruh gravitasi.

Kegiatan di layanan PP-IPTEK turut didukung mahasiswa dan siswa magang, yakni Aurel Novia dan Firyal Amatullah dari Jurusan Bahasa Inggris serta Fely Aulia Pertiwi dari Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Makassar, dan Hernita dari SMK Negeri 4 Takalar.


Kunjungan tersebut memberikan pengalaman belajar yang memadukan literasi, pengenalan layanan perpustakaan, dan pembelajaran sains secara interaktif. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diajak mengenal perpustakaan sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar, bereksplorasi, dan menemukan pengetahuan melalui pengalaman langsung. (*)

London, OMG!

Oleh: Firyal Amatullah Adziba Kirana

Perubahan lingkungan sering kali menjadi sesuatu yang menakutkan, terutama bagi anak-anak. Ketakutan akan kehilangan teman, rasa cemas terhadap budaya asing, serta kendala bahasa sering kali memicu penolakan. Asumsi inilah yang diangkat oleh Anugrah Rawiyah Salma dalam bukunya yang berjudul London, OMG! Diterbitkan oleh Noura Books pada tahun 2014, novel setebal 144 halaman ini menjadi salah satu karya yang menarik dalam seri Penulis Cilik Punya Karya (PCPK). Melalui sudut pandang seorang penulis cilik, buku ini berhasil menggambarkan dinamika emosi anak-anak dalam menghadapi perubahan hidup secara jujur, polos dan bermacam-macam kejadian.

Cerita berpusat pada tokoh Khaila, yang akrab disapa Ai. Ai yang semula tinggal di Indonesia tiba-tiba harus pindah ke London karena ayahnya mendapatkan beasiswa kuliah di London selama tiga tahun. Keluarganya harus ikut boyong ke London. Bagi Ai, keputusan ini adalah sebuah awal “bencana” yang memicu air mata. Namun, ketakutan tersebut perlahan mencair setibanya mereka di London. Berkat modal les bahasa Inggris yang pernah diikutinya di Indonesia, Ai dan Afgan (kakaknya) tidak terlalu kesulitan berkomunikasi. Lewat interaksi dengan budaya setempat, Ai justru mendapatkan banyak pengalaman baru. Alih-alih terasing, ia justru terjebak dalam berbagai pertualangan seru mengagumi keindahan kota.

Daya tarik utama dari novel ini terletak pada kekuatan narasinya yang sangat organik. Karena ditulis oleh seorang anak pra-remaja, Alma mampu menyuarakan isi hati anak-anak tanpa kesan menggurui. Bahasa yang digunakan sangat ringan, kasual, dan mengalir dengan lancer. Hal ini membuat pembaca, khususnya anak-anak, akan dengan mudah bersimpati dan terhubung dengan kecemasan yang dirasakan oleh Ai. Selain itu, pesan moral yang disisipkan sangat kuat. Buku ini dengan cerdas mengajarkan pentingnya keluar dari zona nyaman, melatih kemandirian, serta menumbuhkan sikap toleransi terhadap perbedaan budaya tanpa harus kehilangan identitas diri. Visualisasi buku yang khas dengan ilustrasi pendukung juga membuat pengalaman membaca menjadi jauh lebih interaktif dan tidak membosankan.

Meski demikian, buku ini juga terdapat kekurangan. Penggambaran latar kota London di dalam cerita terasa kurang dieksplorasi secara mendalam. Deskripsi mengenai detail arsitektur atau kebiasaan lokal cenderung masih berada di permukaan dan hanya berfokus pada ikon-ikon yang sudah umum diketahui masyarakat luas. Akibatnya, gaya khas London kurang terasa begitu hidup bagi pembaca yang mengharapkan pertualangan geografis yang mendetail.

Kelebihan Buku

·    Gaya bahasanya sangat mengalir, polos, dan sangat mudah dipahami oleh target pembaca usianya.

· Buku ini mengajarkan nilai kemandirian, keberanian menghadapi perubahan, dan pentingnya beradaptasi tanpa melupakan akar budaya asal.

·  Kemasan visual khas seri PCPK dari Noura Books membuat pembaca tidak mudah bosan dan betah membaca hingga halaman terakhir.

Kekurangan Buku

·   Penggambaran kota London di dalam buku ini masih cenderung standar dan berfokus pada tempat-tempat yang sudah umum diketahui, sehingga kurang memberikan detail atmosfer kota yang lebih spesifik atau mendalam.

·  Alur cerita yang sedikit tidak masuk akal. Menjelang akhir buku, ceritanya berubah menjadi kekerasan, trauma, dan penculikan, padahal untuk pembaca yang masih usia belia terkesan berlebihan dan terlalu gelap.

Secara keseluruhan, London, OMG! adalah sebuah bacaan yang sangat menghibur, sekaligus edukatif. Anugrah Rawiyah Salma berhasil membuktikan bahwa batasan usia bukanlah penghalang untuk melahirkan karya yang inspiratif. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh anak-anak usia sekolah dasar hingga remaja awal. Kisah Ai di dalamnya akan menjadi sumber semangat dan refleksi positif, terutama bagi anak-anak yang sedang atau akan menghadapi fase transisi dan perubahan besar di dalam hidup mereka, seperti pindah sekolah atau pindah rumah. Bagi yang ingin membaca buku ini, London, OMG! dapat ditemukan di Pusat Peraga IPTEK yang berada di lantai 2 Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan.


London, OMG!
Jenis Buku: Fiksi Anak / Novel Anak (Seri PCPK – Penulis Cilik Punya Karya)
Pengarang: Anugrah Rawiyah Salma (Alma)
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit dan Cetak: Tahun 2014 (Cetakan 1)
Ketebalan Buku: 144 Halaman
ISBN: 978-602-1606-77-3
 Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm

Rabu, 26 Agustus 2026

92 Siswa MAS Madani Alauddin Gowa Belajar Literasi dan Sains di Layanan Perpustakaan Sulsel


MAKASSAR — Sebanyak 92 siswa kelas X MAS Madani Alauddin Kabupaten Gowa bersama 15 pendamping melakukan kunjungan literasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan (DispusArsip Sulsel), Jalan Sultan Alauddin Km 7, Talasalang, Rabu (26/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal layanan perpustakaan sekaligus memperoleh pengalaman belajar sains secara interaktif.

Rombongan disambut Plt. Kepala Bidang Perpustakaan sekaligus Kepala Seksi Layanan Umum dan Multimedia, Hj. Feby Primajanti Thamrin Tantu, di layanan perpustakaan. Dalam kesempatan itu, Feby memperkenalkan sejumlah layanan yang dikelola DispusArsip Sulsel, di antaranya Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak serta Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang yang berada di Kabupaten Gowa.


Untuk mengefektifkan kegiatan, rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Para siswa mendapatkan penjelasan mengenai berbagai fasilitas perpustakaan, termasuk sistem klasifikasi koleksi, penggunaan Online Public Access Catalog (OPAC), serta tata cara peminjaman dan pengembalian buku, sekaligus diperkenalkan dengan koleksi dari berbagai bidang seperti agama, sosial, bahasa, kesenian, dan sejarah.

Kepala Sekolah MAS Madani Alauddin, Rustan, menyampaikam kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan mengenalkan peserta didik pada berbagai sumber informasi, tetapi juga memberikan pengalaman pembelajaran sains melalui layanan Science Center. Menurutnya, perpustakaan dapat menjadi ruang belajar yang mempertemukan siswa dengan sumber pengetahuan sekaligus pengalaman belajar yang lebih praktis.

Di layanan Science Center, rombongan disambut Kepala Seksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin. Kegiatan diawali dengan sejumlah demonstrasi sains, antara lain eksperimen Air Ajaib yang Tidak Tumpah, Sentripetal di dalam Gelas, dan Gelas Terbalik, sebelum siswa diberi kesempatan mencoba berbagai alat peraga interaktif.


Sri Wahyuni mengapresiasi antusiasme para santriwati yang aktif mengikuti eksperimen dan mencoba berbagai alat peraga selama kegiatan berlangsung. “Kami senang bisa berbagi pengetahuan dengan peserta didik. Semangat belajar seperti ini perlu terus dijaga,” katanya.

Para siswa kemudian mencoba sejumlah wahana, seperti Tebak Tanggal Lahir, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, serta Gyro Extreme. Kegiatan di layanan PP-IPTEK turut didukung siswa magang dari SMK Negeri 4 Takalar dan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM).


Gyro Extreme menjadi salah satu wahana yang paling diminati peserta karena memberikan pengalaman simulasi layaknya astronot di luar angkasa. Melalui wahana tersebut, siswa diperkenalkan pada prinsip gyroscope, yakni kemampuan benda berputar untuk mempertahankan orientasi arah dan melawan pengaruh gravitasi.

Kunjungan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama Plt. Kepala UPT  Perpustakaan, Kaharullah, S.E., M.M. Rombongan selanjutnya melanjutkan kunjungan ke Layanan Deposit sebagai bagian dari rangkaian kegiatan literasi di DispusArsip Sulsel. (*)

Kamis, 13 Agustus 2026

DPRD Jeneponto Konsultasikan Ranperda Pengembangan Budaya Literasi ke Perpustakaan Sulsel


MAKASSAR — Ketua DPRD Kabupaten Jeneponto, Didis Suryadi, bersama rombongan melakukan kunjungan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (13/8/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka koordinasi dan konsultasi untuk memperoleh masukan, saran, serta informasi sebagai bahan penyempurnaan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Kabupaten Jeneponto tentang Pengembangan Budaya Literasi.

Rombongan DPRD Kabupaten Jeneponto diterima oleh Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Feby Primajanti, di Layanan Perpustakaan BI Corner. Dalam menerima kunjungan tersebut, Hj. Feby didampingi sejumlah pustakawan, yakni Suharman Musa, Hj. Hamsiani Syakur, dan Desy Selviana.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat substansi Ranperda agar kebijakan pengembangan budaya literasi di Kabupaten Jeneponto dapat disusun secara komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam sambutannya, Hj. Feby Primajanti menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif DPRD Kabupaten Jeneponto yang tengah menyusun Ranperda Pengembangan Budaya Literasi. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam mendorong peningkatan budaya literasi masyarakat.

“Kami sangat mendukung inisiatif DPRD Kabupaten Jeneponto dalam penyusunan Ranperda Pengembangan Budaya Literasi. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jeneponto, Muh. Basri, SE, mengatakan Ranperda Pengembangan Budaya Literasi tersebut ditargetkan dapat dirampungkan pada Agustus 2026.

Ia berharap proses koordinasi dan konsultasi bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dapat memberikan masukan yang konstruktif untuk menyempurnakan rancangan regulasi tersebut.


Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan rumusan Ranperda yang tidak hanya kuat dari sisi regulasi, tetapi juga mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Dengan demikian, kebijakan pengembangan budaya literasi nantinya dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan di Kabupaten Jeneponto.

Penyusunan Ranperda Pengembangan Budaya Literasi dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem literasi daerah, sekaligus mendorong keterlibatan pemerintah, lembaga pendidikan, perpustakaan, komunitas, dan masyarakat dalam membangun budaya membaca serta meningkatkan akses terhadap sumber-sumber pengetahuan. (*)

Senin, 10 Agustus 2026

Kazuha's Identity

Oleh: Firyal Amatullah Adziba Kirana


Kazuha’s Identity
Jenis Buku: Fiksi Anak / Novel Anak (Seri Kecil-Kecil Punya Karya / KKPK)

Pengarang: Kanita Desfara Adzani

Penerbit: DAR! Mizan

Tahun Penerbit : 2012

Ketebalan Buku: 104 halaman

ISBN: 978-602-242-089-7

Persahabatan pada masa kanak-kanak tidak selalu berjalan sederhana. Di balik keceriaan bermain dan berbagi cerita, terkadang muncul rasa penasaran, kecurigaan, bahkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya orang yang dianggap sebagai sahabat. Tema tersebut menjadi menarik ketika dikemas dalam sebuah cerita misteri yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Melalui kisah persahabatan, pembaca tidak hanya diajak mengikuti sebuah petualangan, tetapi juga memahami arti kejujuran, kepercayaan, dan penerimaan terhadap diri sendiri maupun orang lain.

KKPK: Kazuha’s Identity merupakan salah satu novel anak yang diterbitkan dalam seri populer Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) oleh DAR! Mizan pada 2012. Ditulis oleh penulis muda Kanita Desfara Adzani, buku setebal 104 halaman ini memadukan kehidupan sekolah, dinamika persahabatan, dan misteri yang membuat pembaca penasaran. Perpaduan tersebut menjadikan novel ini sebagai bacaan ringan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai positif kepada pembacanya.

Cerita berpusat pada Alliya, seorang anak yang memiliki sahabat baru bernama Kazuha Narruna. Kazuha digambarkan sebagai sosok anak perempuan yang pintar, modis, dan menyenangkan. Alliya merasa beruntung dapat memiliki sahabat seperti Kazuha. Namun, seiring berjalannya waktu, sikap Kazuha mulai berubah dan cenderung menjadi sombong. Di sisi lain, Alliya mulai menyadari adanya sejumlah keanehan dalam diri sahabatnya tersebut. Kazuha seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain.

Kecurigaan-kecurigaan kecil tersebut kemudian membawa Alliya pada sebuah petualangan untuk mengungkap identitas asli Kazuha. Dari sinilah unsur misteri dalam cerita mulai berkembang. Pembaca diajak mengikuti berbagai petunjuk yang ditemukan Alliya sekaligus menebak-nebak rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Kazuha.

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada kemampuan Kanita Desfara Adzani dalam membangun rasa penasaran. Dengan menggunakan sudut pandang dan permasalahan yang dekat dengan dunia anak-anak, pembaca diajak ikut menyelidiki teka-teki mengenai sosok Kazuha. Bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami sehingga sesuai dengan karakteristik pembaca anak.

Konflik antara Alliya dan Kazuha juga terasa cukup dekat dengan pengalaman anak-anak dalam membangun sebuah persahabatan. Rasa curiga yang muncul tidak serta-merta menghilangkan rasa sayang terhadap sahabat. Situasi tersebut menggambarkan bagaimana seorang anak dapat berada dalam posisi dilematis ketika harus memilih antara mempertahankan kepercayaan atau mencari tahu kebenaran.

Selain menghadirkan unsur misteri yang menghibur, novel ini juga memiliki pesan moral yang cukup kuat. Hubungan Alliya dan Kazuha memperlihatkan pentingnya kejujuran dan komitmen dalam sebuah persahabatan. Pembaca juga diajak untuk memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan persoalan hidup yang berbeda.

Tema pencarian jati diri yang tercermin dalam judul Kazuha’s Identity disampaikan secara ringan melalui perjalanan Alliya mengungkap rahasia sahabatnya. Pesan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari novel karena mengingatkan pembaca bahwa seseorang tidak dapat dinilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Di balik sikap dan penampilan seseorang, bisa terdapat pengalaman yang membentuk dirinya.

Buku ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:

  • Menggunakan bahasa yang kasual, sederhana, dan mudah dipahami oleh pembaca anak-anak.
  • Alur misterinya menarik dan mampu membangun rasa penasaran terhadap kelanjutan cerita.
  • Mengangkat persoalan persahabatan yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
  • Menyampaikan nilai-nilai moral tentang kejujuran, kepercayaan, dan penerimaan terhadap orang lain tanpa terkesan menggurui.

Adapun beberapa kekurangannya, antara lain:

  • Beberapa karakter pendukung belum digali secara mendalam.
  • Dengan jumlah halaman yang relatif tipis, ruang untuk mengembangkan karakter dan konflik menjadi cukup terbatas.
  • Penyelesaian konflik utama menjelang akhir cerita terasa sedikit tergesa-gesa sehingga resolusi misterinya belum sepenuhnya memberikan ruang yang cukup untuk pendalaman cerita.

Secara keseluruhan, Kazuha’s Identity karya Kanita Desfara Adzani merupakan novel anak yang ringan, menarik, dan sarat makna. Buku ini berhasil mengemas tema pencarian jati diri melalui petualangan misteri yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Kisah persahabatan Alliya dan Kazuha tidak hanya mengajak pembaca menebak identitas dan rahasia yang tersembunyi, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya kejujuran, kepercayaan, dan kemampuan menerima orang lain.

Karya ini juga menunjukkan bahwa penulis muda mampu menghadirkan cerita dengan konflik yang menarik sekaligus menyelipkan pesan pendidikan karakter. Novel ini direkomendasikan bagi pembaca usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, terutama anak-anak yang menyukai cerita tentang kehidupan sekolah, persahabatan, dan misteri ringan. Bagi penggemar seri KKPK terbitan DAR! Mizan, Kazuha’s Identity dapat menjadi salah satu pilihan bacaan yang menarik untuk menambah pengalaman membaca cerita karya penulis seusia anak dan remaja. Bagi yang ingin membaca buku ini, Kazuha’s Identity dapat ditemukan di Pusat Peraga IPTEK yang berada di lantai 2 Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan. (*)

Kamis, 06 Agustus 2026

Buku Kecilku, Rahasiaku

 Oleh: Firyal Amatullah Adziba Kirana


Buku Kecilku, Rahasiaku
Jenis Buku: Fiksi/Antologi Cerita Anak & Remaja
Nama Pengarang: Syifa Tsabita Wiangga, dkk.
Tahun Terbit & Cetak: 2020 (Cetakan I)
Ketebalan Buku: 145 halaman
Nomor Edisi Buku: Ed. 1
Ukuran Buku: 14 x 20 cm

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, kebiasaan membaca menghadapi tantangan yang tidak ringan. Waktu luang yang dahulu dapat diisi dengan membaca buku kini kerap beralih pada aktivitas menggunakan gawai. Namun, di tengah perubahan tersebut, masih ada anak-anak yang menunjukkan ketertarikan terhadap dunia membaca dan menulis. Bahkan, pengalaman mereka berinteraksi dengan buku mampu melahirkan cerita-cerita sederhana yang merekam cara pandang, perasaan, dan pengalaman khas dunia anak.

Buku Kecilku, Rahasiaku merupakan kumpulan cerita pendek antologi hasil lomba menulis nasional yang menampilkan kisah sehari-hari anak-anak dengan buku. Karya ini ditulis oleh penulis cilik yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar dan diterbitkan oleh Penerbit Gorga. Melalui cerita yang polos, jujur, dan dekat dengan kehidupan anak, buku ini menghadirkan kisah-kisah inspiratif yang dapat memotivasi anak-anak lainnya untuk gemar membaca sekaligus berani menulis.

Secara tidak langsung, lembaran-lembaran kisah dalam buku ini juga menjadi cermin terhadap kondisi literasi generasi muda saat ini. Buku ini menangkap fenomena pergeseran budaya, ketika keberadaan buku dan aroma kertas mulai tersisih oleh kehadiran layar digital. Melalui kisah-kisah di dalamnya, pembaca diingatkan bahwa gawai hanyalah alat, sementara imajinasi, pengetahuan, dan kemampuan berpikir tetap dapat tumbuh melalui kebiasaan membaca.

Salah satu hal yang turut memengaruhi minat baca anak adalah lingkungan di sekitarnya. Ada anak yang tinggal di pelosok desa tetapi memiliki orang tua yang mendukung kegemarannya membaca. Ada pula anak yang lebih memilih bermain gawai atau bermain di luar rumah, tetapi kemudian tertarik membaca karena memiliki teman yang gemar membaca. Kebiasaan membaca juga dapat tumbuh sejak dini melalui orang tua yang membacakan cerita sebelum tidur. Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keluarga, teman sebaya, dan lingkungan memiliki peran penting dalam membangun minat baca anak.

Dalam konteks tersebut, Buku Kecilku, Rahasiaku seolah menjadi pengingat bagi keluarga dan institusi pendidikan agar terus menghadirkan ruang-ruang yang dapat menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku. Kehadiran buku, akses terhadap bahan bacaan, serta dukungan terhadap kreativitas anak menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi di tengah derasnya arus modernisasi.

Keunikan utama buku ini terletak pada kejujuran narasi yang dibangun langsung oleh para penulis cilik. Karena ditulis dari sudut pandang anak-anak yang mengalami dinamika kehidupan pada zamannya, konflik dan pengalaman yang dihadirkan terasa dekat serta tidak menggurui. Pembaca diajak menyelami berbagai perasaan seorang anak, termasuk ketika mengalami kegagalan, kesedihan, maupun kekecewaan setelah kalah dalam sebuah lomba menulis.

Buku ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:

  • Menggunakan kosakata sederhana yang bersahabat bagi pembaca anak-anak.
  • Cerita yang diangkat dekat dengan kehidupan dan pengalaman anak zaman sekarang.
  • Setiap cerita menyelipkan nilai pendidikan karakter, seperti kejujuran, empati, serta pentingnya keterbukaan kepada orang tua.

Adapun beberapa kekurangannya, antara lain:

  • Ilustrasi pendukung di dalam buku masih minim, padahal unsur visual dapat menjadi daya tarik penting bagi pembaca anak-anak.
  • Beberapa cerita memiliki penyelesaian yang terasa terlalu singkat atau instan sehingga konflik yang dibangun belum seluruhnya tergali secara mendalam.

Buku Kecilku, Rahasiaku merupakan karya antologi yang hangat, jujur, dan edukatif. Di tengah gempuran penggunaan gawai, buku ini menjadi salah satu bukti bahwa semangat literasi anak-anak Indonesia masih dapat tumbuh melalui kesempatan untuk membaca dan berkarya. Buku ini cocok dibaca oleh anak usia sekolah dasar tingkat atas hingga remaja awal, khususnya usia 9–14 tahun yang sedang berada dalam tahap mengeksplorasi diri dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi bacaan bagi orang tua dan pendidik yang ingin memahami cara pandang anak melalui cerita yang mereka tuliskan sendiri.

Pada akhirnya, Buku Kecilku, Rahasiaku tidak sekadar menghadirkan kumpulan cerita anak, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya memberikan ruang kepada anak untuk membaca, berimajinasi, dan berkarya. Buku ini membuktikan bahwa anak-anak bukan hanya pembaca, tetapi juga mampu menjadi pencipta karya apabila mendapatkan dukungan dan wadah yang tepat. Kehadirannya diharapkan dapat memotivasi pembaca cilik lainnya untuk mulai memegang pena, menuangkan pengalaman, dan menghasilkan karya mereka sendiri. Bagi masyarakat yang ingin membaca buku ini, Buku Kecilku, Rahasiaku dapat ditemukan di Pusat Peraga IPTEK yang berada di lantai 2 Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan. (*)

Senin, 03 Agustus 2026

20 Peserta Magang dari SMK Negeri 4 Takalar dan UNM Ikuti Pembekalan di Layanan PP-IPTEK Perpustakaan Sulsel

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan kembali menjadi tempat pembelajaran bagi mahasiswa dan pelajar melalui program studi magang dan praktik kerja lapangan (PKL). Tahun ini, sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan magang, terdiri atas 7 orang dari SMK Negeri 4 Takalar, Jurusan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, serta 13 orang dari Universitas Negeri Makassar (UNM) yang berasal dari berbagai program studi, di antaranya Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan Administrasi Pendidikan.

Masa pelaksanaan magang berbeda-beda pada setiap peserta, bergantung pada ketentuan dari masing-masing lembaga pendidikan, yakni berkisar antara satu hingga enam bulan. Program ini juga menjadi salah satu syarat penyelesaian mata kuliah maupun mata pelajaran, sekaligus memberikan pengalaman kerja nyata di bidang kepustakawanan dan pelayanan informasi.

Selama mengikuti magang, peserta memperoleh kesempatan terlibat langsung dalam berbagai aktivitas pustakawan, seperti layanan sirkulasi, penataan (shelving) koleksi, klasifikasi bahan pustaka baru, penginputan data koleksi, penyusunan materi promosi perpustakaan, hingga berbagai kegiatan teknis lainnya.

Pada kegiatan pembekalan di Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Senin (3/8/2026) para peserta magang diterima langsung oleh Kepala Seksi Layanan Pusat Peraga IPTEK, Hj. Sri Wahyuni Djamaludin. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan apresiasi kepada para peserta serta berharap program magang dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar yang mampu meningkatkan kompetensi, kedisiplinan, dan pengalaman kerja di lingkungan perpustakaan.

Selanjutnya, peserta memperoleh pembekalan dari Pengelola Layanan PP-IPTEK, Desy Selviana. Mereka diperkenalkan dengan fungsi layanan PP-IPTEK sebagai wahana pembelajaran berbasis alat peraga interaktif yang bertujuan menumbuhkan minat masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam sesi praktik, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga belajar secara langsung mengenai tata cara memberikan pelayanan dan edukasi kepada pengunjung. Mereka diajak memahami cara mengoperasikan berbagai alat peraga interaktif, seperti Tebak Tanggal Lahir, Baterai Tangan, Harpa Tanpa Dawai, Halilintar, Katrol, Menurun ke Atas, Energi vs Daya, Gyro Extreme, Bola Listrik, hingga Lengkungan Nan Kokoh.

Pengelola Layanan PP-IPTEK, Desy Selviana, mengatakan pembekalan tersebut bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan pelayanan sehingga mereka mampu mendampingi pengunjung ketika mengikuti kegiatan di PP-IPTEK.

"Melalui pembekalan ini, peserta magang tidak hanya memahami cara mengoperasikan alat peraga, tetapi juga belajar memberikan informasi edukatif serta pelayanan yang baik kepada setiap pengunjung. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal yang bermanfaat bagi mereka di dunia kerja maupun pendidikan," ujarnya.


Melalui program magang ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan terus berkomitmen mendukung peningkatan kompetensi generasi muda dengan memberikan pengalaman belajar yang aplikatif sekaligus memperkenalkan peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, literasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan. (***)