Minggu, 29 Juni 2025

Layanan PP-IPTEK Sulawesi Selatan, Mengenalkan Koleksi Buku Spesial Bertema Keluarga Menyambut Hari Keluarga Nasional


Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) yang jatuh setiap tanggal 29 Juni, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan melalui Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menghadirkan koleksi buku pilihan bertema keluarga. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan bangsa.

Hari Keluarga Nasional diperingati sebagai momentum refleksi pentingnya keluarga sebagai lembaga pertama dan utama dalam pembentukan generasi unggul. Dengan tema tahun ini, "Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas", diharapkan masyarakat semakin sadar untuk menjaga keharmonisan keluarga, saling mendukung, dan menjadikan rumah sebagai tempat tumbuh yang sehat baik secara fisik, emosional, maupun spiritual.

Berikut ini beberapa koleksi buku yang tersedia melalui https://ipusnas2.perpusnas.go.id, direkomendasikan untuk memperkuat wawasan dan nilai-nilai kehidupan keluarga:

πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘¦ Keluargamu, Keluargaku, Keluarga Kita oleh Sr. Lucia Anggraini, OSU
Menyajikan kisah nyata dari 10 pasangan suami-istri yang memperlihatkan bahwa kehidupan berkeluarga bukan tanpa tantangan. Buku ini menyemangati kita untuk tidak menyerah dalam mempertahankan keharmonisan keluarga dengan mengandalkan iman dan kasih sayang.

πŸ“— Keluargaku oleh Endar Wismulyani
Buku anak yang mengajak pembaca kecil mengenal peran dan kasih sayang dalam keluarga. Menyentuh dan sarat pesan moral bagi anak-anak untuk lebih menyayangi orang tua dan anggota keluarga lainnya.

πŸ“˜ Keluargaku: Ayah oleh Kak Lilo & Kak Pii
Sebuah buku edukatif untuk anak-anak tentang siapa ayah, peranannya dalam keluarga, serta bagaimana mengenal dan menghormati sosok ayah dengan cara yang menyenangkan.

πŸ“• Keluargaku Surgaku oleh Ust. Yusuf Mansur
Memandu orang tua agar mampu menjadikan anak sebagai investasi akhirat, melalui pengasuhan islami, pengajaran akhlak, dan pendidikan tauhid sejak dini.

πŸ“– Keluargaku: Ibu, Ayah, Nenek, Kakek, Bibi, Paman, Kakak, Adik, Sepupu oleh Kak Lilo & Kak Pii
Seri buku anak yang mengenalkan anggota keluarga besar dan perannya masing-masing. Ilustratif dan edukatif untuk membangun pengertian sosial dalam keluarga sejak usia dini.

πŸ“š Psikologi Keluarga oleh Karlinawati Silalahi & Eko A. Meinarno
Sebuah kajian mendalam mengenai dinamika keluarga di tengah perubahan zaman. Buku ini cocok untuk mahasiswa, pendidik, dan pemerhati isu keluarga.

🌿 Keluarga Qur’ani oleh Dedhi Suharto
Memberikan inspirasi dari keluarga Nabi Ibrahim sebagai teladan keluarga muslim dalam membentuk rumah tangga yang harmonis dan berlandaskan nilai-nilai ilahiah.

πŸ“™ Rahasia Keluarga oleh Okky Madasari
Antologi kisah nyata dan fiksi tentang keluarga. Kisah-kisahnya merefleksikan cinta, luka, dan harapan dalam kehidupan sehari-hari yang akan menghangatkan hati pembacanya.

🧠 Mengatasi Konflik Keluarga oleh Leni Fitriana
Panduan komunikasi efektif untuk menyelesaikan konflik antara orang tua dan anak. Sangat berguna dalam menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga.

πŸ“” Menuju Keluarga Samara oleh Laila Dzuhria
Sebuah panduan praktis dan reflektif untuk para lajang dan pasangan muda dalam membangun pernikahan dan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Mari kita jadikan Hari Keluarga Nasional sebagai momen untuk memperkuat ikatan cinta dalam keluarga. Melalui literasi, kita dapat membangun keluarga yang bahagia, sehat, dan penuh kasih. Selamat Hari Keluarga Nasional 2025! πŸŒΌπŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘¦πŸ“š

Kamis, 26 Juni 2025

Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Eksplorasi Layanan PP-IPTEK di Perpustakaan Sulsel

Sebanyak 65 mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) angkatan 2023 melakukan kunjungan edukatif ke Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) yang dikelola oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (26/06/2025).

Rombongan mahasiswa didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah Pelestarian Bahan Pustaka, Ramadayanti, S.I.P., M.Hum., serta difasilitasi langsung oleh pustakawan H. Syamsuddin, S.S., M.M.

Guna mengoptimalkan interaksi dan pemahaman peserta, kunjungan ini dibagi menjadi dua kelompok yang masuk secara bergantian ke ruang layanan PP-IPTEK. Hal ini dilakukan agar setiap mahasiswa memiliki kesempatan lebih luas untuk mencoba dan memahami fungsi berbagai alat peraga secara langsung.

Kunjungan ini disambut oleh pengelola layanan PP-IPTEK. Salah seorang pengelola, Desy Selviana, menyampaikan apresiasi atas kedatangan para mahasiswa dan menjelaskan peran alat peraga interaktif sebagai bagian dari koleksi perpustakaan, sejajar dengan buku digital maupun cetak yang memberikan informasi edukatif.

“Alat peraga bukan hanya media hiburan, tapi juga sarana edukatif yang memperkuat pemahaman konsep sains secara aplikatif,” ujarnya.

Mahasiswa diajak mencoba sejumlah alat peraga interaktif seperti Tebak Tanggal Lahir, Katrol, Menurun ke Atas, Bola Listrik, Gorden Otomatis, Panel Surya, Tunjuk Warna, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, Gyro Ekstrem, dan lainnya.



Di antara semua, Tebak Tanggal Lahir menjadi favorit. Permainan ini menggunakan prinsip bilangan biner yang diubah ke bilangan desimal, lalu dimainkan secara interaktif. Konsep ini berakar dari logika biner yang dikembangkan oleh George Boole, yang menjadi fondasi sistem digital modern.

Sebelum ke PP-IPTEK, mahasiswa lebih dahulu mengunjungi Bagian Pelestarian Bahan Pustaka. Di sana, Hj. Samsani memberikan penjelasan mengenai alur fumigasi bahan pustaka, skema proses penjilidan, serta memperlihatkan beberapa koleksi yang sedang dalam tahap perbaikan.

Perwakilan mahasiswa, Annisa Mugni dan Sangnging, menyampaikan kesan positif terhadap pengalaman tersebut.
“Dengan menggabungkan teori di kelas dan praktik lapangan, kami dapat melihat langsung bagaimana menyelamatkan bahan pustaka. Selain itu, kami juga melihat koleksi perpustakaan lainnya yang terkait dengan teknologi edukatif,” ungkap Annisa.

Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan, Touku Umar, S.Hum., M.IP., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari service learning untuk mendukung pemahaman mata kuliah Pelestarian Bahan Pustaka.

Kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa, tetapi juga memperkuat keterkaitan antara ilmu perpustakaan, pelestarian, dan inovasi teknologi dalam era digital saat ini.

Senin, 23 Juni 2025

SMAIT Al Fatih Kunjungi Perpustakaan Provinsi Sulsel, Belajar Sains dan Budaya Lokal

Sebanyak 25 siswa dan 9 guru pendamping dari SMAIT Al Fatih melakukan kunjungan edukatif ke UPT Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan pada Senin (23/6/2025). Rombongan diterima langsung di ruang layanan umum oleh Kepala UPT Perpustakaan, Kaharullah, SE., MM., bersama H. Andi Sangkawana selaku Kepala Bidang Perpustakaan serta Hj. Feby Primajanti, Kepala Seksi Layanan Umum dan Multimedia.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Career Day Series dalam rangka “Pembelajaran Spesifik”. Kepala sekolah, Andi Agus, S.Pd., Gr., M.Pd., menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan memperluas wawasan siswa dalam bidang literasi, teknologi, dan budaya lokal.

Dalam sambutannya, Kepala UPT Perpustakaan Kaharullah, SE., MM., menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. “Kami menyambut baik kunjungan ini dan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dari SMAIT Al Fatih. Kegiatan telah kami susun sesuai dengan jadwal yang dikirimkan ke kami, mulai dari tur perpustakaan untuk mengenal fasilitas dan koleksi buku, pengenalan alat peraga interaktif serta demo sains hingga kuis interaktif dari pengelola Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), dan ditutup dengan kegiatan membuat resensi buku,” ungkapnya.

Siswa tampak antusias mengikuti setiap tahap sesuai jadwal, terutama saat mencoba berbagai alat peraga yang ada di Layanan PP-IPTEK, seperti Kacamata Ultrasonik, Bola Listrik, Panel Surya, Kursi Paku, dan Lengkungan Nan Kokoh. Alat-alat ini menarik perhatian karena memungkinkan siswa mengalami langsung prinsip-prinsip sains yang biasanya hanya mereka temui dalam teori di kelas.

Kacamata Ultrasonik dirancang untuk membantu penyandang tunanetra mendeteksi objek di depan mereka dengan memanfaatkan gelombang ultrasonik. Bola Listrik memperagakan konsep aliran muatan listrik dari potensial tinggi ke potensial rendah, ketika jari tangan didekatkan, tubuh menjadi jalur konduktif bagi listrik. Sementara itu, Kursi Paku menguji keberanian siswa untuk duduk di atas paku-paku tajam yang tersusun rapat; prinsip distribusi tekanan menjadikan kursi ini aman dan tidak melukai.

Adapun Lengkungan Nan Kokoh memperkenalkan konsep pembagian tekanan dalam struktur bangunan. Gaya berat pada lengkungan dipusatkan di kedua tepiannya melalui balok-balok yang saling mengunci, sehingga struktur tetap kokoh meski menahan beban. Prinsip ini diterapkan dalam jembatan melengkung maupun arsitektur tradisional seperti gapura di Candi Borobudur.

Konsep ini menjelaskan bahwa gaya berat pada lengkungan dipusatkan pada kedua tepinya, di mana balok-balok yang disusun saling mengunci hingga ke balok penahan terakhir. Prinsip ini membuat struktur tetap kokoh meskipun ada beban di atasnya. Contoh penerapan nyatanya dapat ditemukan pada jembatan melengkung dan gapura di Candi Borobudur.

Demo sains seperti “Sentripetal dalam Gelas” dan “Tornado dalam Botol” turut menambah semangat peserta. Di akhir kunjungan ke Layanan PP-IPTEK,  pengeloal layanan memberi kuis interaktif untuk menguji pemahaman serta mendorong kemampuan berpikir logis dan ilmiah.


Menjelang akhir kegiatan, siswa mengunjungi Layanan Deposit yang menyajikan koleksi lokal Sulawesi Selatan. Di sini, mereka mengerjakan tugas membuat resensi buku sebagai sarana mengenalkan sejarah, budaya, dan tokoh-tokoh penting dari daerah Sulawesi Selatan.

Di akhir kunjungan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Muhammad Al-Ihwan, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pihak perpustakaan. "Kami sangat berterima kasih karena siswa telah dikenalkan secara bagaimana manajemen perpustakaan dijalankan, mengenalkan berbagai alat peraga dan mengikuti demo sains yang menarik. Ditambah lagi, adanya kuis interaktif serta kegiatan resensi buku dari koleksi khusus Sulawesi Selatan, diharapakan mampu menmperkaya wawasan siswa. Ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan,” tegasnya.

Kunjungan ini diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan siswa tentang literasi, sains, dan budaya lokal, tetapi juga menumbuhkan semangat belajar berbasis pengalaman. Pihak pengelola layanan UPT Perpustakaan berharap kunjungan seperti ini dapat mendorong generasi muda untuk lebih akrab dengan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan, sekaligus menumbuhkan minat terhadap ilmu pengetahuan dan warisan budaya daerah sejak dini. (***)


Rabu, 18 Juni 2025

Mahasiswa UNM Kenalkan Alat Musik Tradisional sebagai Media Edukasi Interaktif

Alat musik tradisional khas Makassar, Puik-puik, kini menjadi bagian dari koleksi alat peraga interaktif di Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Penyerahan dilakukan oleh mahasiswa magang dari Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM), di Layanana PP-IPTEK pada Rabu (18/6/2025).

Puik-puik merupakan alat musik tiup berbahan kayu dan tanduk kerbau, yang secara tradisional digunakan dalam berbagai upacara adat Bugis-Makassar untuk menciptakan suasana sakral. Kehadirannya di PP-IPTEK tidak hanya sebagai representasi budaya lokal, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tradisi.

Pengelola layanan PP-IPTEK, Desy Selviana, menerima langsung alat tersebut dari Asri, S.Sos., M.M., salah seorang pustakawan yang memberikan bimbing mahasiswa selama kegiatan magang. Ia mewakili tim mahasiswa magang yang terdiri dari Nabila Wulandari, Nur Hikmah, Putri, dan Rifka Hanifah Basir.

Menurut para mahasiswa, Puik-puik layak dijadikan alat peraga karena mengandung prinsip-prinsip dasar fisika dalam menghasilkan bunyi melalui getaran udara, mirip dengan mekanisme alat musik tiup modern. Bentuknya yang khas serta cara kerjanya bisa digunakan untuk menjelaskan konsep seperti resonansi, tekanan udara, hingga panjang gelombang suara. Melalui pendekatan ini, pengunjung terutama pelajar dapat memahami sains secara kontekstual dan menyenangkan.

Sebagai pelengkap, mahasiswa juga menyiapkan banner dan barcode interaktif yang dapat dipindai oleh pengunjung untuk mengakses informasi digital seputar sejarah, cara pembuatan, serta makna budaya Puik-puik.

“Kami melihat ini sebagai contoh ideal bagaimana alat tradisional bisa menjadi media edukatif yang menarik. Ini sejalan dengan misi PP-IPTEK dalam menjadikan sains menyenangkan,” ujar Desy Selviana.

Integrasi Puik-puik ke dalam layanan PP-IPTEK menjadi langkah konkret pelestarian budaya yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia tak sekadar benda warisan, tetapi juga jembatan edukatif lintas disiplin, dari etnomusikologi hingga fisika akustik. (***)

Kamis, 12 Juni 2025

Direktorat Kemitraan Riset dan Inovasi: Apresiasi Kreativitas Layanan PP-IPTEK SULSEL

Makassar, 12 Juni 2025Direktorat Kemitraan Riset dan Inovasi melalui Anggun Ratna Gumilang dan Herviana selaku tim pendamping melakukan kunjungan ke Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) yang dikelola oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Kunjungan ini diterima langsung oleh pengelola layanan di ruang Kepala UPT Perpustakaan, 

Dalam kunjungan tersebut, tim pendamping mendengarkan berbagai masukan dari pengelola yang diharapkan menjadi kontribusi strategis bagi pengembangan layanan pusat peraga di Sulawesi Selatan.

Desy Selviana, pustakawan sekaligus pengelola layanan, menyampaikan bahwa keberadaan alat peraga interaktif di perpustakaan berperan penting dalam mengenalkan sains dan teknologi secara menyenangkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Konsep-konsep ilmiah yang kompleks bisa dijelaskan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Kami juga mendapat dukungan berupa alat peraga dari mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar yang semakin memperkaya materi peraga kami,” jelas Desy.

Sebagai bentuk perluasan akses, layanan PP-IPTEK Sulsel juga aktif mengenalkan layanannya kepada publik melalui platform digital. Salah satunya dengan membangun website resmi di https://www.peragaiptekdpksulsel.org dan akun Instagram @sulselsciencecenter. Platform digital ini menyajikan informasi seputar alat peraga, demo sains, dokumentasi kunjungan, hingga koleksi buku terkait ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tak hanya itu, PP-IPTEK Sulsel juga berpartisipasi aktif dalam Science Film Festival 2024, sebuah festival internasional yang mengangkat literasi sains melalui media film. Kegiatan ini memperluas jangkauan edukasi sekaligus membangun antusiasme masyarakat terhadap isu-isu ilmiah yang kontekstual dan relevan.

Anggun Ratna Gumilang memberikan apresiasi tinggi terhadap kemajuan dan kreativitas layanan yang dinilainya berkembang secara berkelanjutan. “Layanan ini berkembang sangat baik. Kreativitas pengelola tidak hanya terlihat dari keberhasilan memelihara alat peraga sejak hibah tahun 2017, tetapi juga dari inisiatif memperluas jangkauan layanan melalui teknologi digital dan berbagai bentuk kolaborasi. Ini adalah praktik baik yang layak direplikasi di daerah lain,” ujar Anggun.

Ia menambahkan bahwa komunikasi dan dukungan dari pusat akan terus dilanjutkan guna memperkuat eksistensi dan peran PP-IPTEK di daerah sebagai bagian dari upaya nasional meningkatkan literasi sains dan inovasi di tengah masyarakat. (***)

Warga Australia Telusuri Jejak Leluhur Bugis di Perpustakaan Sulsel

Layanan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan menerima kunjungan istimewa dari pasangan suami istri berkewarganegaraan Australia, Tony Latham dan Sharyn, pada Kamis (12/6/2025). Keduanya disambut langsung oleh Kepala Seksi Layanan Umum dan Multimedia, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Feby Primajanti.

Kunjungan ini bukan sekadar wisata literasi, melainkan bagian dari pencarian sejarah dan jejak leluhur keluarga Sharyn yang memiliki hubungan darah dengan komunitas Bugis, baik di Indonesia maupun di Belanda.

“Kami tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang migrasi orang Bugis, sejarah hubungan dagang dengan Belanda pada tahun 1700-an, serta pengaruh budaya Sulawesi Selatan terhadap wilayah lain, termasuk Australia,” ujar Tony.

Pihak perpustakaan memberikan referensi koleksi literatur terkait, antara lain buku Makassar Abad XIX: Tinjauan Suku Bugis Makassar dalam Kejatidirian Indonesia, Kontinuitas dan Perubahan dalam Sejarah Sulawesi Selatan, serta Pelajaran dan Pengaruh Kebudayaan Makassar-Bugis di Pantai Utara Australia. Informasi tambahan juga disarankan untuk ditelusuri melalui Layanan Kearsipan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.

Dalam perbincangan santai, Tony menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Belanda dan Inggris pada Agustus lalu bersama keluarga. Ia menelusuri kembali kisah leluhur istrinya yang diyakini pernah diperbudak dan dibawa dari Indonesia ke Belanda pada awal abad ke-18.

“Kami sempat tinggal di desa Hoorn, sebuah kota pelabuhan tua di utara Amsterdam yang pernah menjadi pusat aktivitas VOC. Di sanalah leluhur istri saya diduga bekerja sebagai garbuleur, yakni penyortir rempah-rempah. Kisah ini selalu menggugah imajinasi saya,” ungkap Tony.

Ia menambahkan, salah satu leluhur mereka yang bernama Cupido, berasal dari Makassar dan dibawa ke Belanda sekitar tahun 1750. Cupido kemudian dikenal sebagai Cupido Valentijn, seorang budak asal Bugis. Keturunannya, Cornelis Valentijn, lahir di Enkhuizen pada tahun 1844, merupakan cicit dari Cupido. Ayah Cornelis, Frederik, meninggal saat Cornelis baru berusia 14 tahun. Jejak silsilah inilah yang terus coba ditelusuri Tony dan Sharyn dalam rangka merekonstruksi identitas keluarga mereka yang terhubung dengan sejarah kolonial dan perbudakan di Hindia Timur.

“Mengetahui bahwa nenek moyang istri saya adalah orang Makassar atau Bugis yang dibawa ke Eropa sebagai budak, dan kini keturunannya hidup di Australia dan Belanda, memberikan makna baru bagi kami. Ini bukan sekadar sejarah keluarga, tapi juga bagian dari sejarah dunia,” ujar Tony.

Pihak Perpustakaan Sulawesi Selatan menyambut baik minat ini dan terus mendorong keterbukaan akses informasi sejarah kepada masyarakat internasional, sebagai bagian dari diplomasi budaya dan pelestarian warisan intelektual Sulawesi Selatan. (***)