Pengelolaan layanan perpustakaan melakukan berbagai kegiatan berdasarkan kebutuhan pemustaka. Salah satu bentuk pengelolaan layanan perpustakaan yang diberikan ke pemustaka dengan mengangkat tema: "Hari Konferensi Asia Afrika" yang bertepatan pada Kamis (18/04/2024). Untuk memeriahkan Hari Konferensi Asia Afrika, Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) berbagai informasi yang sajikan kepada pemustaka seperti Latar Belakang Hari Konferensi Asia Afrika, Pelaksanaan Hari Konferensi Asia Afrika, Dampak dan Pengaruh Hari Konferensi Asia Afrika serta koleksi buku digital terkait Konferensi Asia Afrika. Seperti pada buku "Konferensi Asia Afrika di Indonesia Jilid III.
Buku ini membahas tentang para tamu utama yang menginap di Hotel Savoy Homann, yang dekat dengan tempat konferensi. Berjalan kaki menuju acara. Tiga kamar bersejarah di Hotel Savoy Homann Bidakara, Bandung: nomor 124, 244, dan 344. Pada saat Konferensi Asia Afrika, kamar 124 ditempati Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, nomor 244 dihuni Presiden Sukarno, dan nomor 344 digunakan Perdana Menteri Cina Zhoun Enlai.
Latar Belakang Konferensi Asia Afrika
Seperti dikutip dari situs resmi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, meskipun Perang Dunia II berakhir pada Agustus 1945, harapan akan perdamaian dunia tidak terwujud sepenuhnya. Di wilayah Asia dan Afrika, konflik dan masalah baru masih merajalela.
Wilayah ini menjadi arena bagi konflik terbuka, terutama di Korea, Indocina, Palestina, dan Afrika Selatan. Hal ini disebabkan oleh persaingan antara dua blok kekuatan yang saling bertentangan, yakni Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet.
Walaupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah hadir sebagai sebuah lembaga internasional yang bertujuan untuk menangani berbagai masalah global, PBB belum berhasil sepenuhnya menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit di wilayah Asia Afrika. Hal ini mendorong negara-negara di daerah tersebut untuk merasa perlunya langkah-langkah konkret dan kerja sama untuk menghadapi tantangan yang mereka hadapi.
Hal itulah yang melatarbelakangi timbulnya ide untuk menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika. Kesadaran akan kesamaan nasib, sejarah, dan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara di wilayah Asia Afrika menjadi pendorong untuk bersatu dan mencari solusi bersama.
Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika
Dikutip dari situs Museum Konferensi Asia-Afrika, Pemerintah Indonesia melalui diplomasi menghubungi 18 Negara di Asia Afrika untuk mengetahui pandangan mereka tentang pelaksanaan Konferensi Asia Afrika. Secara umum, negara-negara tersebut merespons positif dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu dan peserta konferensi.
Mengikuti undangan dari Perdana Menteri Indonesia, Perdana Menteri yang menjadi peserta Konferensi Kolombo (Birma, Ceylon, India, Indonesia, dan Pakistan) berkumpul di Bogor untuk menyusun persiapan Konferensi Asia Afrika. Pertemuan tersebut berhasil mencapai kesepakatan mengenai agenda, tujuan, dan negara-negara yang akan diundang dalam Konferensi Asia Afrika.
Kelima negara yang terlibat dalam Konferensi Bogor menjadi penyandang dana Konferensi Asia Afrika, dengan Indonesia dipilih sebagai tuan rumah, yang dijadwalkan berlangsung pada minggu terakhir April tahun 1955. Presiden Indonesia, Soekarno, menetapkan Kota Bandung sebagai lokasi pelaksanaan konferensi.
Pada 3 Januari 1955, di Bandung, dibentuk Panitia Setempat yang dipimpin oleh Sanusi Hardjadinata, Gubernur Jawa Barat. Tugas Panitia Setempat adalah mempersiapkan dan mengatur segala hal terkait akomodasi, logistik, transportasi, kesehatan, komunikasi, keamanan, hiburan, protokol, penerangan, dan aspek lainnya.
Pada tanggal 15 Januari 1955, surat undangan untuk Konferensi Asia Afrika dikirimkan kepada kepala pemerintahan dari 25 negara di Asia dan Afrika. Dari semua negara yang diundang, hanya satu negara yang menolak undangan tersebut, yaitu Federasi Afrika Tengah, karena masih terdapat pengaruh bekas penjajah di negara tersebut. Sementara 24 negara lainnya menerima undangan tersebut, meskipun pada awalnya beberapa negara masih ragu.
Konferensi Asia Afrika berlangsung dari tanggal 18 hingga 25 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung. Acara ini dihadiri oleh 29 negara, termasuk lima negara yang menjadi sponsor, yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, India, dan Pakistan.
Selain itu, 24 negara peserta lainnya adalah Saudi Arabia, Turki, Birma, Republik Rakyat Cina, Vietnam Utara, Mesir, Vietnam Selatan, Sri Lanka, Ethiopia, Yaman, Afganistan, Ghana, Kamboja, Iran, Laos, Irak, Libanon, Jepang, Liberia, Yordania, Libya, Sudan, Nepal, dan Syria.
Dampak atau Pengaruh Konferensi Asia Afrika
Konferensi Asia Afrika menghasilkan beberapa keputusan yang memiliki dampak atau pengaruh sebagai berikut:
- Menurunnya ketegangan dan potensi pecahnya konflik yang berasal dari ketidaksepakatan terkait Taiwan antara Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat.
- Peningkatan upaya bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam meraih kemerdekaan.
- Penggunaan kebijakan politik luar negeri yang bebas aktif oleh Indonesia, India, Birma, dan Sri Lanka, yang kemudian diadopsi oleh negara-negara lain di luar Blok Barat dan Blok Timur.
Sumber:
https://www.detik.com/jateng/berita/d-7297840/18-april-hari-konferensi-asia-afrika-ini-sejarah-hingga-dampaknya