Kamis, 17 September 2026

Belajar di Perpustakaan, Santriwati Shohwatul Is’ad Eksplorasi Sains di Layanan PP-IPTEK Sulsel


MAKASSAR — Sebanyak 28 santriwati SMP IT Shohwatul Is’ad Kabupaten Pangkep bersama tiga guru pendamping mengunjungi Layanan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (17/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kegiatan study tour Kelas 7 yang dikemas sebagai pembelajaran di luar lingkungan sekolah.

Kepala SMP IT Shohwatul Is’ad, Achmad Sochabat, mengatakan kegiatan outing tidak sekadar bertujuan mengenalkan fasilitas dan layanan perpustakaan kepada para santri. Dalam kunjungan itu, mereka juga mendapat tugas pembelajaran berupa penulisan hasil pengamatan selama berada di perpustakaan.

Menurut Achmad, tugas tersebut dirancang untuk melatih santri berani bertanya, menyimak informasi, mencatat, serta mengolah hasil pengamatan menjadi tulisan. Dengan demikian, kunjungan perpustakaan diharapkan memberi pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas.

“Anak-anak tidak hanya datang berkunjung, tetapi juga mendapat tugas untuk menulis hasil pengamatan. Mereka belajar bertanya, mendengarkan, mencatat, kemudian mengolah informasi yang diperoleh,” kata Achmad.


Sebelum mengikuti kegiatan di Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), para santri terlebih dahulu mengikuti pengenalan layanan perpustakaan umum. Pengelola memperkenalkan sistem klasifikasi koleksi yang membantu pemustaka menemukan buku berdasarkan subjek dan bidang ilmu.

Pengenalan tersebut memberikan pemahaman kepada para santri mengenai cara menelusuri koleksi secara mandiri. Dengan memahami pengelompokan bahan pustaka, mereka dapat menemukan bacaan sesuai minat dan kebutuhan tanpa selalu bergantung pada bantuan petugas.

Usai mengenal layanan perpustakaan, rombongan melanjutkan kegiatan ke PP-IPTEK. Para santri diterima Kepala Seksi Layanan PP-IPTEK, Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin, yang memperkenalkan berbagai fasilitas edukatif, mulai dari alat peraga interaktif dan permainan edukasi .


Sebelum mencoba alat peraga, para santri terlebih dahulu menyaksikan demonstrasi sains yang diperagakan Sri Wahyuni bersama pengelola PP-IPTEK. Sejumlah percobaan yang diperkenalkan antara lain Semburan Naga, berbagai percobaan terkait listrik statis, serta gaya sentripetal.

Sri Wahyuni mengatakan keberanian mencoba merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran sains. Menurutnya, anak-anak perlu mendapatkan ruang untuk bereksperimen dan belajar dari proses ketika sebuah percobaan belum berhasil.

“Anak-anak kami dorong untuk mencoba kembali apa yang sudah mereka lihat. Kalau belum berhasil, jangan langsung menyerah, tetapi coba lagi dan cari tahu mengapa percobaannya belum berhasil. Dari proses itu, mereka belajar,” ujarnya.

Setelah menyaksikan demonstrasi, para santri diberi kesempatan mencoba sejumlah alat peraga yang tersedia. Mereka bergantian mengeksplorasi berbagai wahana edukatif, di antaranya Tebak Tanggal Lahir, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, serta Gyro Extreme.


Kegiatan tersebut memadukan membaca, penelusuran koleksi, wawancara, pengamatan, dan eksperimen dalam satu rangkaian pembelajaran. Para santri tidak hanya mengenal perpustakaan sebagai tempat membaca, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung memanfaatkan layanan dan fasilitas yang dapat menunjang proses belajar. (*)

Kamis, 10 September 2026

Santri SMP IT Shohwatul Is’ad Pangkep Belajar di Perpustakaan Sulsel


MAKASSAR — Sebanyak 26 santri SMP IT Shohwatul Is’ad Kabupaten Pangkep bersama tiga guru pendamping mengunjungi Layanan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (10/9/2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan study tour yang dikemas sebagai pembelajaran di luar lingkungan sekolah.

Kepala SMP IT Shohwatul Is’ad, Achmad Sochabat, mengatakan kegiatan outing Kelas 7B tidak hanya bertujuan mengenalkan fasilitas dan layanan perpustakaan, tetapi juga memberikan tugas pembelajaran kepada para santri. Mereka ditugaskan melakukan wawancara dengan pustakawan atau pengelola perpustakaan maupun pengunjung untuk menggali informasi tentang perpustakaan dan pengalaman mereka dalam memanfaatkan layanan.

Menurut Achmad, tugas tersebut melatih santri untuk berani bertanya, mendengarkan informasi, serta mencatat dan mengolah hasil wawancara menjadi cerita atau pengalaman yang menarik. Dengan cara itu, kunjungan ke perpustakaan diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas.

Sebelum mengikuti kegiatan di Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), para santri terlebih dahulu mengunjungi layanan perpustakaan umum. Di sana, pengelola memperkenalkan sistem klasifikasi koleksi sebagai salah satu cara untuk membantu pemustaka menemukan buku berdasarkan subjek dan bidang ilmu yang diminati.

Pengenalan sistem klasifikasi tersebut memberikan pemahaman kepada santri mengenai cara menelusuri koleksi secara mandiri. Dengan mengetahui pengelompokan koleksi, mereka dapat lebih mudah menemukan bahan bacaan sesuai minat dan kebutuhan tanpa harus selalu bergantung pada bantuan petugas.

Setelah itu, para santri melanjutkan kunjungan ke Layanan PP-IPTEK. Mereka diterima langsung Kepala Seksi Layanan PP-IPTEK, Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin, yang memperkenalkan berbagai fasilitas yang tersedia, mulai dari alat peraga interaktif dan permainan edukatif hingga koleksi bacaan anak berupa komik, cerita rakyat, serta ensiklopedia ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebelum mencoba alat peraga, para santri mengikuti demonstrasi sains yang diperagakan Sri Wahyuni bersama pengelola PP-IPTEK. Beberapa demonstrasi yang diperkenalkan antara lain Semburan Naga, Air Ajaib yang Tidak Tumpah, dan Gelas Terbalik.


Kegiatan tersebut mendapat respons antusias dari para santri. Mereka tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga diberi kesempatan memperagakan kembali percobaan yang telah dilakukan. Dalam prosesnya, santri diarahkan untuk tidak mudah menyerah ketika percobaan belum berhasil, melainkan mencoba kembali dan mencari tahu penyebabnya.

Kepala Seksi Layanan PP-IPTEK, Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin, mengatakan keberanian mencoba merupakan bagian penting dalam proses belajar sains. Menurutnya, anak-anak perlu diberi ruang untuk bereksperimen dan belajar dari proses ketika sebuah percobaan belum berhasil.

“Anak-anak kami dorong untuk mencoba kembali apa yang sudah mereka lihat. Kalau belum berhasil, jangan langsung menyerah, tetapi coba lagi dan cari tahu mengapa percobaannya belum berhasil. Dari proses itu, mereka belajar,” ujarnya.

Setelah mengikuti demonstrasi, para santri kemudian mencoba sejumlah alat peraga yang tersedia. Mereka bergantian mengeksplorasi berbagai wahana edukatif, di antaranya Tebak Tanggal Lahir, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, serta Gyro Extreme.


Kunjungan tersebut mempertemukan kegiatan membaca, penelusuran koleksi, wawancara, dan eksperimen dalam satu rangkaian pembelajaran. Para santri tidak hanya mengenal perpustakaan sebagai tempat membaca, tetapi juga memperoleh pengalaman menggunakan layanan dan fasilitas yang mendukung proses belajar secara langsung. (*)

Selasa, 08 September 2026

Dari Buku hingga Eksperimen, Siswa STP Khoiru Ummah Gowa Belajar di Perpustakaan Sulsel


MAKASSAR — Sebanyak 23 siswa kelas I, II, dan III SD Tahfizh Plus (STP) Khoiru Ummah Gowa bersama tujuh guru pendamping mengunjungi Layanan Perpustakaan Umum Provinsi Sulawesi Selatan, Selasa (8/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal perpustakaan sekaligus memperoleh pengalaman belajar melalui buku, eksperimen, dan alat peraga sains.

Rombongan terlebih dahulu mengunjungi Layanan Perpustakaan Umum untuk mengenal berbagai fasilitas dan koleksi yang tersedia. Kegiatan dilanjutkan ke Layanan Referensi, tempat siswa diperkenalkan dengan koleksi literatur anak.

Di layanan tersebut, siswa membaca dan mengeksplorasi koleksi buku dengan bimbingan guru pendamping dan pustakawan. Mereka diberi kesempatan memilih bahan bacaan sesuai minat sehingga kegiatan membaca berlangsung lebih interaktif.


Kepala Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah Gowa, Rahmatullah, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah memberikan pengalaman belajar di luar kelas sekaligus menumbuhkan minat baca dan budaya literasi peserta didik.

Usai mengunjungi Layanan Referensi, rombongan melanjutkan kegiatan ke Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK). Rombongan diterima Kepala Seksi Layanan PP-IPTEK, Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin.

Di PP-IPTEK, siswa diajak mengenal berbagai konsep sains melalui demonstrasi dan alat peraga interaktif. Kegiatan diawali dengan demonstrasi “Naga Api” dan “Tornado dalam Botol” yang menarik perhatian siswa.

Setelah menyaksikan demonstrasi, siswa diberi kesempatan mencoba sejumlah alat peraga yang tersedia. Mereka bergantian mengeksplorasi wahana edukatif, di antaranya Tebak Tanggal Lahir, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, serta Gyro Extreme.

Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami konsep sains tidak hanya melalui penjelasan, tetapi juga dengan mengamati dan mencoba secara langsung. Suasana semakin semarak ketika siswa berusaha memahami cara kerja setiap alat peraga yang mereka gunakan.

Antusiasme siswa juga terlihat ketika mereka didorong untuk memperagakan kembali demonstrasi sains yang telah disaksikan. Mereka diarahkan untuk tidak mudah menyerah apabila percobaan yang dilakukan belum berhasil, melainkan mencoba kembali dan memahami penyebab kegagalannya.

Kepala Seksi Layanan PP-IPTEK, Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin, menyampaikan keberanian mencoba merupakan bagian penting dalam proses belajar sains. Menurutnya, anak-anak perlu diberi ruang untuk bereksperimen dan belajar dari proses ketika percobaan belum berhasil.

“Anak-anak kami dorong untuk mencoba kembali apa yang sudah mereka lihat. Kalau belum berhasil, jangan langsung menyerah, tetapi coba lagi dan cari tahu mengapa percobaannya belum berhasil. Dari proses itu, mereka belajar,” ujarnya.

Sri Wahyuni juga mengingatkan pentingnya pendampingan orang dewasa dalam melakukan demonstrasi sains tertentu. Salah satunya demonstrasi “Naga Api” yang membutuhkan bimbingan dan pengawasan agar dapat dilakukan dengan aman.

“Untuk demonstrasi tertentu, seperti Naga Api, anak-anak harus mendapat bimbingan dan pengawasan orang dewasa, baik orang tua maupun kakak. Keselamatan tetap menjadi hal utama dalam kegiatan eksperimen sains,” katanya.


Kunjungan tersebut memberikan pengalaman belajar yang memadukan kegiatan literasi dengan pengenalan sains secara langsung. Melalui membaca, mengamati, mencoba, dan bereksperimen, siswa diharapkan semakin memiliki rasa ingin tahu serta tumbuh kecintaannya terhadap buku dan ilmu pengetahuan sejak dini. (***)

Senin, 31 Agustus 2026

Kembalinya Sherlock Holmes

 Oleh: Aurel Novia


Judul: The Return of Sherlock Holmes / Kembalinya Sherlock Holmes
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit Asli: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit: Jl. Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270
Bulan dan Tahun Terbit: Juni 1993
ISBN: 979-511-779-3

Kembalinya Sherlock Holmes merupakan kumpulan cerita detektif karya Sir Arthur Conan Doyle yang kembali menghadirkan Sherlock Holmes setelah sebelumnya dianggap telah meninggal dalam pertarungannya dengan Professor Moriarty di Air Terjun Reichenbach. Kembalinya Holmes menjadi kejutan bagi sahabat sekaligus rekannya, Dr. John Watson. Setelah mengetahui bahwa Holmes ternyata masih hidup, Watson kembali mengikuti berbagai penyelidikan yang dilakukan oleh sang detektif. Dengan kemampuan observasi, penalaran logis, dan kecerdasannya, Holmes kembali memecahkan berbagai kasus yang tampak sulit untuk dipahami.

Buku ini terdiri atas 13 cerita pendek dengan kasus yang berbeda-beda. Setiap cerita menghadirkan misteri, petunjuk tersembunyi, serta proses penyelidikan yang membuat pembaca ikut mencoba menemukan jawaban sebelum Holmes mengungkapkannya.

Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah hubungan antara Holmes dan Watson. Watson tidak hanya berperan sebagai teman dan pendamping Holmes, tetapi juga menjadi narator yang membantu pembaca memahami berbagai kasus dari sudut pandangnya.

Salah satu kekuatan utama Kembalinya Sherlock Holmes terletak pada cara Arthur Conan Doyle membangun misteri melalui berbagai petunjuk yang tersebar di sepanjang cerita. Holmes tidak menyelesaikan kasus hanya berdasarkan keberuntungan, tetapi menggunakan kemampuan observasi dan deduksi untuk menghubungkan berbagai informasi yang pada awalnya terlihat tidak berkaitan.

Karakter Sherlock Holmes digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdas, observatif, dan percaya pada kekuatan logika. Ia mampu memperhatikan detail kecil yang sering kali tidak disadari oleh orang lain. Kemampuan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam setiap kasus yang dihadapinya.

Di sisi lain, Dr. Watson memiliki peran yang tidak kalah penting. Melalui sudut pandang Watson, pembaca dapat mengikuti proses penyelidikan Holmes secara lebih mudah. Watson juga membuat karakter Holmes terasa lebih manusiawi karena ia sering kali menunjukkan kekaguman, kebingungan, dan rasa penasaran terhadap kemampuan sahabatnya.

Selain unsur misteri, buku ini juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan dan kemampuan berpikir dapat digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan. Pembaca diajak untuk memperhatikan detail dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat di permukaan.

Setiap cerita memiliki kasus dan penyelesaian yang berbeda, sehingga pembaca tidak mudah merasa bosan. Beberapa kasus bahkan memberikan kejutan pada bagian akhir karena penyelesaian yang diberikan Holmes tidak selalu sesuai dengan dugaan awal pembaca.

Kelebihan Buku

  • Alur misterinya menarik dan mampu membuat pembaca penasaran terhadap penyelesaian setiap kasus.
  • Karakter Sherlock Holmes sangat kuat, terutama melalui kemampuan observasi dan deduksinya.
  • Hubungan Holmes dan Watson terasa menarik, karena keduanya memiliki karakter dan peran yang berbeda tetapi saling melengkapi.
  • Setiap cerita menghadirkan kasus yang berbeda, sehingga pembaca mendapatkan variasi dalam membaca.
  • Banyaknya petunjuk dalam cerita membuat pembaca dapat ikut mencoba memecahkan misteri bersama Holmes.
  • Buku tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir kritis, memperhatikan detail, dan menggunakan logika.

Kekurangan Buku

  • Adapun beberapa kekurangannya, antara lain:
  • Beberapa cerita menggunakan bahasa dan gaya penulisan yang cukup kuno, terutama karena karya ini berasal dari awal abad ke-20.
  • Beberapa kasus memiliki alur penyelesaian yang cukup cepat, sehingga pembaca mungkin merasa bahwa proses pemecahan misterinya berakhir terlalu singkat.
  • Tidak semua cerita memiliki tingkat ketegangan yang sama, sehingga ada beberapa bagian yang terasa lebih menarik dibandingkan cerita lainnya.
  • Beberapa karakter pendukung tidak dikembangkan secara mendalam karena cerita lebih berfokus pada kasus dan proses penyelidikan Holmes.
  • Pembaca yang tidak terbiasa dengan cerita detektif klasik mungkin membutuhkan waktu untuk mengikuti istilah dan gaya penceritaan yang digunakan.

Secara keseluruhan, buku karya Sir Arthur Conan Doyle ini  merupakan kumpulan cerita detektif klasik yang menarik dan cocok bagi pembaca yang menyukai misteri serta proses pemecahan kasus. Melalui 13 cerita yang berbeda, pembaca diajak mengikuti Sherlock Holmes dalam menyelesaikan berbagai kasus menggunakan kemampuan observasi, logika, dan deduksinya.

Meskipun beberapa cerita menggunakan gaya bahasa yang cukup klasik dan memiliki penyelesaian yang relatif singkat, buku ini tetap menjadi salah satu karya detektif yang menarik untuk dibaca. Kembalinya Sherlock Holmes tidak hanya menawarkan kisah misteri, tetapi juga menunjukkan pentingnya ketelitian, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai cerita misteri, detektif, kriminal, dan teka-teki, terutama bagi mereka yang ingin mengenal kembali sosok Sherlock Holmes melalui kumpulan kasus yang penuh dengan petunjuk dan kejutan. 

 

Jumat, 28 Agustus 2026

Belajar Sains Sambil Membuat Laporan, Siswa SD Pertiwi Eksplorasi Alat Peraga PP-IPTEK SULSEL


MAKASSAR
— Sebanyak delapan siswa peserta ekstrakurikuler Sains SD Pertiwi Makassar melakukan kunjungan edukatif ke Layanan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (28/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk belajar sains melalui praktik langsung sekaligus melatih kemampuan literasi melalui tugas penyusunan laporan.

Rombongan yang dipimpin guru pembina ekstrakurikuler Sains, Rizki Amalia, diterima langsung oleh Kepala Seksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin.

Dalam kunjungan tersebut, para siswa diajak mengenal dan mencoba berbagai alat peraga interaktif yang tersedia di layanan PP-IPTEK. Kegiatan dirancang tidak hanya untuk memberikan pengalaman praktik, tetapi juga mendorong siswa memahami konsep sains melalui pengamatan secara langsung.

Salah satu pengelola layanan PP-IPTEK, Desy Selviana, memberikan penjelasan mengenai fungsi, cara kerja, dan konsep sains yang terdapat pada sejumlah alat peraga. Penjelasan tersebut menjadi bekal bagi siswa dalam melakukan pengamatan sekaligus menyusun laporan yang menjadi tugas dari guru pembina ekstrakurikuler.

Setiap siswa mendapat tugas membuat laporan mengenai satu alat peraga interaktif yang berbeda. Dengan demikian, siswa tidak sekadar mencoba alat peraga, tetapi juga dituntut mengamati cara kerjanya, memahami konsep yang diterapkan, mencatat informasi penting, kemudian mengolahnya menjadi sebuah laporan kunjungan.

Para siswa kemudian mencoba sejumlah alat peraga, di antaranya Harpa Tanpa Dawai, Bola Listrik, Robot Halang Lintang, Jembatan Nan Kokoh, dan Gyro Extreme. Mereka tampak antusias bergantian mencoba wahana edukatif tersebut sambil mengamati cara kerja dan mencatat informasi yang diperlukan untuk tugas laporan.

Salah satu alat peraga yang menarik perhatian siswa adalah pesawat sederhana katrol. Para siswa bergantian mengoperasikan sistem katrol sambil mempelajari prinsip kerjanya. Melalui praktik tersebut, siswa dapat melihat secara langsung penerapan konsep pesawat sederhana dalam membantu mempermudah pekerjaan.

Kepala Seksi Layanan PP-IPTEK, Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin, menyambut baik antusiasme para siswa selama mengikuti kegiatan. Menurutnya, keberadaan alat peraga interaktif dapat menjadi sarana pembelajaran yang membantu siswa mengenal konsep sains dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.

“Kami juga menyediakan demo sains sebagai bagian dari layanan edukasi di PP-IPTEK. Kami berharap pada kunjungan berikutnya, kegiatan demo sains ini dapat kami tampilkan sehingga anak-anak bisa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan interaktif,” ujar Sri Wahyuni.

Kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di dalam kelas. Siswa tidak hanya memperoleh informasi secara teori, tetapi terlibat langsung dalam proses mengamati, mencoba, memahami, mencatat, dan menyampaikan kembali pengetahuan yang diperoleh melalui laporan.

Bagi Rizki Amalia selaku guru pembina ekstrakurikuler Sains, tugas laporan menjadi bagian penting dari kunjungan tersebut. Selain memperkuat pemahaman siswa terhadap konsep sains, kegiatan ini juga melatih ketelitian dalam melakukan pengamatan serta kemampuan menyusun informasi berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh.


Kunjungan edukatif tersebut menjadi bentuk pembelajaran kontekstual yang memadukan sains dan literasi. Melalui pengalaman langsung di PP-IPTEK, siswa tidak hanya diajak mengenal cara kerja berbagai alat peraga, tetapi juga belajar mengolah pengalaman tersebut menjadi pengetahuan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

12 Siswa SDIT Al Ihsan Makassar Belajar Sains Interaktif di PP-IPTEK Perpustakaan Sulsel


MAKASSAR — Sebanyak 12 siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Ihsan Makassar bersama dua guru pendamping mengunjungi Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Sultan Alauddin Km 7, Talasalang, Jumat (28/8/2026).

Kunjungan edukatif tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, sekaligus menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Selain mengakses layanan perpustakaan, para siswa juga mengikuti kegiatan pembelajaran sains di layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK).

Kepala SDIT Al Ihsan Makassar, Sumiati, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. Menurutnya, kegiatan di luar kelas dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan literasi sekaligus memperluas pengetahuan siswa melalui pengalaman langsung.

“Melalui kunjungan edukatif seperti ini, kami berharap minat baca, wawasan, dan budaya literasi anak-anak dapat terus berkembang sejak dini,” ujar Sumiati.

Saat berada di layanan PP-IPTEK, rombongan disambut Kepala Seksi Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK), Hj. Sri Wahyuni Djamaluddin.


Para siswa kemudian diajak mengenal berbagai konsep sains melalui demonstrasi dan alat peraga interaktif. Kegiatan diawali dengan sejumlah eksperimen sederhana, di antaranya demonstrasi “Naga Api” dan “Gaya Sentrifugal”.

Setelah menyaksikan demonstrasi, siswa diberi kesempatan mencoba secara langsung berbagai alat peraga yang tersedia. Suasana semakin meriah ketika mereka bergantian mengeksplorasi wahana edukatif, seperti Tebak Tanggal Lahir, Harpa Tanpa Dawai, Energi dan Daya, serta Gyro Extreme.

Melalui wahana tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga diajak memahami konsep-konsep sains melalui pengalaman langsung. Pembelajaran menjadi lebih interaktif karena siswa dapat melihat, mencoba, dan merasakan sendiri prinsip sains yang dijelaskan.

Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif mengikuti setiap eksperimen dan menunjukkan rasa ingin tahu saat mencoba satu per satu alat peraga yang tersedia.

Sri Wahyuni mengapresiasi antusiasme para siswa selama mengikuti kegiatan. Menurutnya, rasa ingin tahu dan keberanian mencoba merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran sains.

“Kami senang bisa berbagi pengetahuan dengan anak-anakku sekalian. Semangat belajar seperti ini perlu terus dijaga,” katanya.


Kegiatan di layanan PP-IPTEK turut didukung mahasiswa dan siswa magang yang membantu pelaksanaan kegiatan, yakni Aurel Novia dan Firyal Amatullah dari Jurusan Bahasa Inggris serta Fely Aulia Pertiwi dari Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Makassar. Selain itu, kegiatan juga didukung Hernita dari SMK Negeri 4 Takalar.

Kamis, 27 Agustus 2026

Lovasket 3: The Final Game

 Oleh: Fely Aulia Pertiwi

   


Perjalanan menuju pertandingan final tentu tidak selalu berjalan dengan mudah. Para tokoh harus menghadapi berbagai tekanan, persaingan, dan persoalan yang dapat menguji hubungan mereka. Di sinilah nilai persahabatan dan kerja sama menjadi penting. Mereka harus belajar untuk saling percaya dan tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi. Perjuangan tersebut membuat pertandingan dalam cerita terasa lebih dari sekadar permainan bola basket, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan para tokoh dalam menghadapi masalah dan menjadi lebih dewasa.

Bagian yang menarik dari cerita adalah bagaimana pertandingan final menjadi titik penting bagi para tokoh. Mereka harus memberikan kemampuan terbaik dan membuktikan hasil dari latihan serta perjuangan yang telah dilakukan. Situasi pertandingan juga dapat menimbulkan rasa tegang karena kemenangan dan kekalahan ditentukan dalam waktu yang terbatas. Pembaca dibuat penasaran dengan hasil akhir pertandingan dan bagaimana para tokoh menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Menurut saya sebagai pembaca, Loyasket 3: The Final Game memiliki daya tarik karena menggabungkan olahraga dengan kehidupan remaja. Bola basket tidak hanya digunakan sebagai latar, tetapi menjadi bagian dari konflik dan perjalanan para tokoh. Cerita seperti ini juga dapat memberikan gambaran bahwa untuk mencapai sebuah kemenangan diperlukan kerja keras, disiplin, dan kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain.

Selain itu, kisah dalam buku ini dapat memberikan motivasi kepada pembaca, terutama bagi mereka yang menyukai olahraga. Perjuangan para tokoh menunjukkan bahwa keberhasilan tidak dapat diperoleh secara instan. Dibutuhkan latihan, keberanian menghadapi kegagalan, dan kemauan untuk terus berusaha. Nilai persahabatan juga menjadi salah satu bagian yang menarik karena dalam sebuah tim, setiap orang harus mampu mengesampingkan ego dan saling mendukung.

Kelebihan Buku

  • Gaya cerita yang mengangkat olahraga bola basket membuat buku ini menarik, terutama bagi pembaca yang menyukai cerita bertema olahraga.
  • Cerita mengandung nilai kerja sama, persahabatan, semangat pantang menyerah, dan perjuangan untuk mencapai tujuan.
  • Konflik yang berkaitan dengan pertandingan dapat membuat pembaca merasa penasaran terhadap hasil akhir yang akan diperoleh para tokoh.
  • Kehadiran pertandingan final menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan suasana yang lebih menegangkan dan membuat cerita terasa semakin penting menuju akhir.
  • Buku ini dapat memberikan motivasi kepada pembaca untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi persaingan maupun kegagalan.

Kekurangan Buku

  • Bagi pembaca yang kurang menyukai olahraga, terutama bola basket, beberapa bagian yang berhubungan dengan pertandingan mungkin terasa kurang menarik.
  • Cerita yang berfokus pada pertandingan dan kehidupan para pemain dapat membuat beberapa konflik terasa cukup mudah ditebak oleh pembaca yang sudah sering membaca novel bertema olahraga.
  • Beberapa bagian cerita akan lebih menarik apabila pengembangan karakter dan latar belakang setiap tokoh dibuat lebih mendalam sehingga pembaca dapat lebih memahami alasan dan perasaan mereka.

Secara keseluruhan, Loyasket 3: The Final Game merupakan novel yang cocok bagi pembaca yang menyukai cerita remaja dengan tema olahraga, khususnya bola basket. Ceritanya memberikan gambaran mengenai perjuangan, persahabatan, persaingan, dan semangat untuk mencapai kemenangan. Meskipun masih terdapat beberapa bagian yang dapat dikembangkan lebih dalam, buku ini tetap memberikan pengalaman membaca yang menarik dan pesan positif bagi pembacanya. Dari kisah tersebut, kita dapat belajar bahwa kemenangan bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang proses, kerja keras, keberanian, dan kebersamaan dalam mencapai tujuan.

Loyasket 3: The Final Game 

Judul Buku: Loyasket 3: The Final Game
Jenis Buku: Fiksi / Novel Remaja bertema olahraga
Pengarang: Luna Torashtynq
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 376 Halaman 
ISBN: 978-979-22-7762-3
Bahasa: Indonesia