Alkisah pada zaman dahulu tersebutlah sebuah negeri ada seorang orang kaya yang sangat terkenal kekayaannya. Di dalam negeri itu hanya dua tiga orang saja yang sama kekayaannya. Selain ia kaya, juga taat melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Asal waktu shalat telah tiba, ia tidak menunda nunda waktu lagi langsung mengambil air wuduk dan pergi sembahyang, baik ia lakukan di rumah atau di mesjid dan di mushallah atau di tempat tempat yang layak lainnya.
Sayang sekali orang ini, ia kaya harta, tetapi miskin dalam amal. Ia kaya harta tetapi sangat kikir mengeluarkan kekayaannya itu. Dalam pikirannya hanyalah selalu ia berusaha bagaimana cara sehingga hartanya dapat makin hari makin bertambah. Sesuatu rencana atau pekerjaan yang dapat mengurangi kekayaannya, selalu ditolaknya, baik secara halus atau pun dengan terang terangan.
Berbeda dengan istrinya yang taat melaksanakan shalat serta taat pula melaksanakan syariat agama lainnya. Ia sangat dermawan dan suka menolong fakir miskin serta anak yatim piatu. la selalu peringatkan kepada suaminya agar jangan berlaku kikir, karena harta yang kita miliki ini tidak ada artinya apabila tidak dipergunakan untuk beramal. Tapi karena si suami sudah mabuk harta, sehingga kata-kata istrinya itu tidak dihiraukannya. Selalu di jawabnya, "Engkau dapat berkata demikian karena bukan engkau yang bersusah payah mencarinya. Harta ini memang sudah ada kemudian saya mengawinimu." Apabila suaminya sudah berkata demikian, maka istrinya diam saja dan tidak lagi meneruskan kata-katanya.
Pada suatu ketika, orang kaya ini ingin menikmati padi yang baru diketam dari salah satu sawahnya yang berpuluh bahkan beratus petak jumlahnya itu. Untuk dijadikan lauk ia terpaksa pergi menyumpit burung dari pada memotong salah seekor hewan piaraannya yang beratus jumlahnya. Jangankan kambing apalagi kerbau, sedangkan seekor ayamnya saja, berat hatinya untuk memotongnya. la selalu berpikir apabila dipotong salah seekor hewan piaraannya itu, pasti akan berkurang lagi. Pada waktu ia pergi menyumpit burung, ia berhasil menyumpit seekor burung tekukur betina yang sedang gemuknya. Ia segera pulang ke rumahnya karena ia berpikir dengan burung yang seekor itu sudah cukup untuk dia nikmati bersama padi baru yang tentu sangat gurih itu.
Orang kaya ini tidak mengira, bahwa burung tekukur yang baru saja disumpitnya itu, akan memberikan malapetaka pada dirinya kelak di hari kemudian. Sesungguhnya burung tekukur yang baru disumpitnya itu, adalah induk burung tekukur yang mempunyai 3 ekor anak yang masih kecil kecil. Ketiga ekor anak burung tekukur ini, baru saja beberapa hari menetas. Mereka masih sangat mengharapkan bantuan dan lindungan dari induknya. Mereka akan mati kelaparan, apabila mereka tidak disuapi. Mereka akan mati kedinginan pada malam hari, apabila mereka tidak diselimuti oleh induknya. Apabila datang gangguan mereka belum dapat membela dirinya. Dengan kata lain mereka masih lemah dalam segala galanya, segala sesuatunya mereka masih sangat mengharapkan bantuan dari induknya.
Induknya namun ia hanyalah seekor burung, tetapi ia tetap menyadari kewajibannya sebagai induk yang harus memelihara dan melindungi anak anaknya selagi mereka belum mampu untuk berdiri sendiri. Setiap hari ia terbang ke sana ke mari pergi mencari makanan. Tetapi bukanlah sendiri melainkan sebahagian besar adalah untuk dibawa pulang kepada anaknya yang sedang menunggu di sarangnya. la merasa sangat berbahagia apabila ia pulang sambil membawa banyak makanan untuk anak anaknya yang tentunya merasa sangat lapar. la merasa sangat gembira dan sangat puas, apabila makanan yang dibawanya itu diperebutkan oleh anak anaknya kemudian dimakannya dengan sangat lahapnya. la mengharapkan agar anak anaknya lekas besar dan dapat terbang untuk pergi mencari makanannya sendiri.
Tetapi pada hari yang naas itu selagi induk burung ini sedang beristirahat di dahan sebatang pohon, orang kaya itu datang membidiknya dan melepaskan anak sumpitannya. Tanpa diketahuinya akan bahaya yang mengakhiri hidupnya itu, induk burung tekukur ini tetap dengan tenangnya beristirahat di dahan pohon tempat ia bertengger. Tetapi sejurus kemudian induk burung ini terkapar di tanah. la tidak lama menggelepar gelepar karena anak sumpitan tepat menembus dadanya yang mungil itu. la telah pergi untuk selama lamanya. la tidak sempat untuk pamitan dengan anak anaknya selalu mengharapkan kedatangannya kembali sambil membawa makanan.
Orang kaya itu tersenyum karena gembira serta bangga pada dirinya. Dianggapnya dirinya ahli menyumpit. la membawa pulang segera burung tekukur itu karena sudah tak mampu menahan air liurnya untuk menikmati gorengan burung tekukur yang pasti sangat gurih.
Setelah tiba di rumahnya, ia menyuruh istrinya menggoreng burung tekukur. yang baru disumpitnya. Selesai digoreng dimakannya bersama nasi dari padi yang baru kemarin selesai dipotong. Dengan sangat lahapnya ia menikmati gorengan burung itu. la tidak menyadari bahwa tiga ekor anak burung sedang menciap ciap kelaparan menunggu kedatangan induknya untuk mengantarkan makanan seperti biasa. Tetapi ketiga ekor anak burung ini dari detik ke detik ciapannya makin melemah dan pada hari ketiga, ketiganya pun sudah kaku karena sudah mati. Mereka mati karena sudah tiga hari, mereka tak pernah lagi makan atau pun minum. Mereka pergi mengikuti induknya yang telah berangkat lebih dahulu. Penyebab kematiannya berbeda tetapi kematian mereka, induk dan anak burung ini tetap ada hubungannya, ialah akibat kekejaman orang kaya yang miskin amal itu. Demikianlah sifat dan tingkah laku orang kaya ini. Setiap hari yang menjadi pikirannya ialah bagaimana usahanya sehingga hartanya makin hari makin dapat bertambah. Di samping itu shalatnya tidak pula ditinggalkan. Sepintas lalu apabila dilihat ia termasuk orang yang alim karena tak pernah meninggalkan sembahyangnya. Tetapi sebenarnya sebahagian besar syariat agama tidak dipatuhinya. la memang berhasil menambah tumpukan hartanya sampai ia meninggal dunia, ia pergi meninggalkan hartanya itu untuk selama lamanya. Yang dibawa pergi hanyalah beberapa meter kain kafan membungkus mayatnya masuk ke liang lahad. Sedangkan amalnya masih tanda tanya kalau dapat dikatakan hampir tidak ada selain hanya sembahyang saja.
Rohnya langsung menuju surga yaitu surga tingkat pertama. Tetapi penjaga surga tingkat pertama ini menolaknya, sambil menyatakan, "Tempat tuan bukan di sini, sebab sewaktu tuan masih hidup di dunia, tuan rajin sembahyang sehingga seharusnya tuan masuk di Surga tingkat kedua."
Maka orang kaya ini pun pergi ke Surga tingkat kedua. Sampai di sana ia pun ditolak oleh penjaga surga tingkat ke dua, sambil berkata, "Tempat tuan bukan di surga tingkat kedua sebab sewaktu tuan masih hidup di dunia tuan rajin bersembahyang. Tempat yang layak untuk tuan ialah pada Surga tingkat ketiga."
Maka orang kaya ini pun pergi ke surga tingkat ketiga. Sampai di sana, ia ditolak oleh penjaga surga tingkat ketiga sambil berkata, "Tempat tuan bukan di sini, sebab sewaktu tuan masih hidup di dunia tuan sangat rajin sembahyang sehingga tempat yang layak bagi tuan ialah di surga tingkat keempat. "
Maka orang kaya ini pun pergi ke surga: tingkat keempat. Sampai di sana, ia ditolak oleh penjaga surga. tingkat keempat sambil berkata, "Tempat tuan bukan di sini sebab waktu tuan masih hidup di dunia, tuan sangat rajin sembahyang. sehingga tempat yang layak bagi tuan ialah di Surga tingkat ke lima."
Maka orang kaya ini pun pergi ke surga tingkat kelima. Sampai di sana ia ditolak oleh penjaga surga: tingkat kelima, sambil berkata, "Tempat tuan bukan di sini, sebab sewaktu tuan masih hidup di dunia, tuan sangat rajin sembahyang sehingga tempat yang layak bagi tuan ialah surga tingkat keenam."
Maka orang kaya ini pun pergi ke surga tingkat keenam. Sampai di sana ia ditolak oleh penjaga surga tingkat keenam sambil berkata, "Tempat tuan bukan di sini, sebab sewaktu tuan masih hidup di dunia tuan sangat rajin sembahyang, sehingga tempat yang layak bagi tuan ialah di surga tingkat tujuh."
Maka orang kaya ini pun pergi ke surga tingkat ketujuh. Sampai di sana, penjaga surga tingkat ketujuh sudah akan memasukkan ke dalam. Tetapi tiba tiba ada suara yang mengatakan, "Orang ini tidak layak dan tidak berhak masuk Surga. la adalah penyebab kematian saya dan kematian ketiga ekor anak saya." Rupanya suara itu adalah suara dari roh induk burung tekukur yang disumpitnya dahulu.
Maka penjaga surga menolaknya dan menyuruh pergi ke penjaga Surga tingkat keenam. Sampai di sana hampir saja penjaga Surga keenam mempersilahkan masuk ke dalam. Tetapi tiba-tiba ada suara yang mengatakan, "la tidak layak dan tidak berhak masuk ke dalam surga karena penyebab kematian saya serta kematian ketiga ekor anak saya adalah karena dia." Suara ini adalah suara roh induk burung tekukur yang pernah disumpitnya dahulu.
Kita kembali membicarakan istri orang kaya ini yang sangat rajin sembahyang, juga rajin beramal dan melaksanakan syariat agamanya. Sehingga waktu ia mati, benar benar ia diterima masuk ke dalam surga yang ketujuh tanpa ada yang keberatan seperti suaminya dahulu. la kasihan juga kepada suaminya, tetapi apa boleh buat karena di akhirat setiap orang akan memper tanggung jawabkan perbuatan dan amalnya masing-masing. Suami tak dapat lagi membantu istrinya dan sebaliknya istri tak dapat membantu suaminya.
Demikianlah cerita ini berakhir dengan menyatakan bahwa orang kaya yang kurang amalnya ditolak masuk surga. Sedangkan istrinya yang banyak amalnya terus masuk surga. Kebenaran cerita ini tidak meragukan karena adalah cerita agama.
Kesimpulan informasi:
- Informan mendengar cerita ini dari guru mengajinya kira kira pada waktu ia berusia sebelas tahun. Guru mengajinya ini tidak lain adalah imam di kampung tempat tinggalnya itu.
- Sekali sekalı biasanya pada hari Jumat, gurunya menceritakan cerita keagamaan dan cerita pendidikan lainnya. Salah satu cerita yang pernah diceritakan ialah cerita di atas.
- Cerita ini sangat berkesan pada diri informan serta kepada teman teman mengajinya yang lain. Karena informan banyak berteman mengaji sehingga melalui anak mengajinya cerita gurunya tersebar di seluruh kampung itu, malahan sampai di kampung yang dekat dari situ.
- Sampai sekarang benar benar banyak penduduk kampung ini gemar memelihara burung tekukur. Terutama karena burung ini biasa berbunyi pada waktu subuh kira kira jam 4 atau jam 5 subuh. Seakan-akan ia memberi tanda kepada penduduk terutama bagi pemiliknya agar bangun untuk melaksanakan shalat subuh. Banyak masyarakat yang mempercayai bahwa ia mengusik roh kaya yang masih gentayangan di bumi ini.
- Karena cerita ini mengandung pendidikan keagamaan, maka sangat baik dipelihara dan disebar luaskan.
Nama Informan: Daeng Sarro
Tempat Lahir: Takalar
Agama: Islam
Pekerjaan: Pegawai Agama
Pendidikan: Sekolah Agama
BAhasa daerah yang dikuasai: Makassar
Sumber:
Cerita Rakyat Makassar
(Mite dan Legenda) Daerah Sulawesi Selatan
Editor: Bambang Suwondo
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1987