Pengelolaan layanan perpustakaan melakukan berbagai kegiatan berdasarkan kebutuhan pemustaka. Salah satu bentuk pengelolaan layanan yang diberikan ke pemustaka mengangkat tema: "Hari Lahir Pancasila" yang bertepatan pada Rabu (01/06/2024). Untuk memeriahkan Hari Lahir Pancasila, Layanan Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) berbagai informasi yang sajikan eperti Sejarah Hari Lahir Pancasila serta koleksi buku digital terkait pancasila.
Buku Kisah Pancasila menyajikan perjalanan lahirnya Pancasila sebagai philosophische grondslag atau landasan filosofis dari Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Kisah perjalanan Pancasila dari saat pertama disampaikan oleh Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 tersebut sampai perumusan oleh Tim Sembilan pada 22 Juni 1945 dan sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945.
Penulis: Panitia Peringatan Hari Lahir Pancasila
Buku Pancasila: Kekuatan Pembebas, Pusat Studi Pancasila UNPAR membahas tentang Pancasila sejak tahun 1945 telah menjadi dasar berbangsa dan bernegara Indonesia. Ir. Soekarno menyebut Pancasila sebagai Philosofische Grondslag atau fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, dan hasrat yang sedalam-dalamnya dari Indonesia merdeka yang akan berdiri kekal abadi. Selain itu, Ir. Soekarno juga menyebut Pancasila sebagai weltanschauung bangsa dan negara Indonesia. Di dalam Pancasila terkandung cita-cita, harapan, dan tujuan terbentuk dan berdirinya Indonesia bersatu. Melalui nilai-nilai Pancasila terciptalah sebuah masyarakat Indonesia yang kokoh dan harmonis. Pancasila, karena itu, menjadi pandangan dan keyakinan dasar bersama seluruh masyarakat Indonesia. Sejarah perumusan dan pemikiran tentang Pancasila sejatinya merupakan sejarah penciptaan dan penentuan identitas dan roh kebangsaan Indonesia.
Buku Pancasila Dasar Negara: Kursus Pancasila oleh Presiden Soekarno Tentang Pancasila mengisahkan tentang seorang filsuf konfusius Cina mengatakan bahwa dibutuhkan tiga unsur yang menyatu untuk membentuk sebuah negara yang kuat. Tentara yang kuat, pangan yang cukup, dan kepercayaan yang kuat. Sekitar tahun 1960-an, Indonesia pernah mengalami menjadi negara yang kuat di bidang tentara dan kepercayaan rakyat. Meski minus di bidang pangan, saat itu Indonesia mampu merebut Irian Barat dan memimpin negara-negara nonblok.
Hari ini, Indonesia mempunyai TNI-Polri yang kuat, pangan yang semakin baik, namun minus kepercayaan rakyat. Indonesia tengah dilanda krisis kepercayaan. Salah satunya kepercayaan apakah Pancasila sebagai ideologi, sebagai dasar negara, adalah yang paling pas dan terbaik untuk bangsa Indonesia. Sebagian rakyat juga tidak percaya Pancasila mampu menjalani fungsinya sebagai alat permersatu bangsa. “Pancasila adalah satu alat mempersatu, yang saya yakin seyakin-yakinnya bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke hanyalah dapat bersatu padu di atas dasar Pancasila itu.”
Pancasila Dasar Negara: Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila. Sebuah buku yang disusun untuk membangun kembali kepercayaan rakyat, bahwa Pancasila adalah dasar negara yang pas dan baik bagi Indonesia, dengan ilmu yang benar. Ilmu yang kita dapatkan dari sumber utama, yaitu Bung Karno. Dengan kita mempelajari kembali, diharapkan dapat mengembangkan Pancasila sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini dan masa yang akan datang.
Seperti yang diungkapkan Bung Karno dalam Kursus (Pendahuluan) Presiden tentang Pancasila di Istana Negara, tanggal 26 Mei 1958, “Kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini, Saudara-saudara, membuktikan sejelas-jelasnya bahwa jikalau tidak di atas dasar Pancasila kita terpecah belah, membuktikan dengan jelas bahwa hanya Pancasilalah yang dapat tetap mengutuhkan negara kita, tetap dapat menyelamatkan negara kita.”
Penulis: Tim Panitia Kongres Pancasila IX
Buku Pancasila dalam racikan obatku mengajak para pendidik untuk menemukan kembali ikhtiar Pendidikan Pancasila sebagai sarana penanaman nilai yang perlu dipandang dalam perspektif kekinian. Buku ini merupakan bunga rampai dari 112 tulisan refleksi mahasiswa Program Studi Farmasi Angkatan 2017 Universitas Sanata Dharma yang mengikuti perkuliahan Pendidikan Pancasila pada semester gasal 2017/2018. Berbagai pengalaman maupun komitmen yang mereka ungkapkan menunjukkan betapa pentingnya Pendidikan Pancasila bagi profesi mereka kelak. Buku ini juga menguatkan pandangan bahwa memahami konteks kaum muda sebagai penerima nilai dalam arus gerak zaman perlu diperhatikan. Pendidikan Pancasila jangan sampai terjebak pada formalitas yang mengaburkan cita-cita membangun masyarakat Pancasilais yang militan. Pendidikan Pancasila harus mampu membentuk jati diri dan karakter ke-Indonesia-an sejati, yang dalam konteks para penulis buku ini, menjadi calon Farmasis yang Pancasilais.
Penulis: Mahasiswa Peserta Mata Kuliah Pendidikan Pancasila Program Studi Farmasi Universitas Sanata Dharma Angkatan 2017
Buku #Rayakan Pancasila#TahunPolitik#AnakMudaZamanNow mengulas tanggapan terkait ingar bingar tahun politik sekarang ini, kiranya tepat apabila mahasiswa sebagai kaum muda dapat menjajal praktik baik dari hasil perkuliahan Pendidikan Pancasila. Dengan berpikir dan berefleksi, mahasiswa diajak untuk bersikap kritis dan jernih atas fenomena aktual jelang tahun politik. Untuk selanjutnya mereka juga berani mengungkapkan compassionate commitment dengan menggunakan haknya secara bijak dalam pesta demokrasi mendatang. Hasil pergulatan gagasan dan refleksi para mahasiswa yang tertuang dalam buku ini bermuara pada komitmen bersama untuk senantiasa menggelorakan semangat Pancasila di Tahun Politik. Melalui “Rayakan Pancasila”, anak muda ini berharap agar Tahun Politik menjadi pesta demokrasi yang membahagiakan bagi setiap anggota bangsa yang ber-bhinneka tunggal ika.
Penulis: Mahasiswa Peserta Mata Kuliah Pendidikan Pancasila Program Studi Akuntansi Universitas Sanata Dharma
Sejarah Lahir Pancasila
Pancasila adalah dasar falsafah negara Indonesia yang menjadi panduan bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sejarah lahirnya Pancasila dapat ditarik kembali ke masa awal kemerdekaan Indonesia, di mana ideologi ini menjadi landasan bagi negara yang baru merdeka dari penjajahan Belanda. Berikut adalah garis besar sejarah lahirnya Pancasila:
- Pidato Soekarno di Sidang BPUPKI (1 Juni 1945): Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno, Presiden pertama Indonesia, menyampaikan pidato di hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam pidato tersebut, Soekarno menyatakan bahwa Indonesia harus memiliki dasar negara yang terdiri dari lima sila atau pancasila.
- Rapat Panitia Sembilan (10 Juli 1945): Setelah pidato Soekarno, Panitia Sembilan yang dipimpin oleh Soekarno dan Mohammad Hatta membahas lebih lanjut tentang ideologi negara. Mereka menetapkan bahwa Pancasila terdiri dari lima sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
- Penetapan Pancasila sebagai Dasar Negara (18 Agustus 1945): Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, masih belum ada keputusan resmi tentang dasar negara. Namun, pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Sembilan secara resmi menetapkan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Keputusan ini kemudian diakui dalam Pembukaan UUD 1945.
- Pembukaan UUD 1945: Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Pancasila dinyatakan sebagai dasar negara Republik Indonesia.
Pancasila kemudian terus berkembang dalam sejarah Indonesia sebagai panduan utama bagi negara dalam membangun bangsa dan negara yang berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan sosial, persatuan, dan kesatuan. (***)