Rabu, 26 Juli 2023

42 Santri Berkunjung Ke Layanan PP IPTEK SulSel

Kasi Layanan Pusat Peraga Ilimu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) Sri Wahyuni Djamaluddin menerima kunjungan 42 Santri Entrepreneur Tahfidz Muamalah Al-Qudsiyah Gowa serta 2 ustazah  pendamping pada Rabu (26/07/2023) di ruang Layanan PP-IPTEK jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

Kunjungan ini bertujuan mengajak santri ke perpustakaan sebagai upaya meningkatkan kualitas peserta didik dan mengembangkan minat baca dengan memilih salah satu buku favorit mereka kemudian membuat  resume serta tugas pandangan santri mengenai perpustakaan. Ustazah Indah Sari dan Kartini memilih perpustakaan karena sebagai sumber belajar santri untuk meningkatkan hasil belajarnya dan juga karena letak Layanan Perpustakaan Umum Prov. Sulsel memilih lokasi yang strategis.

Khusus di layanan PP IPTEK, layanan ini  menyediakan berbagai alat peraga interaktif seperti  Tebak Tanggal Lahir, Baterai Tangan, Harpa Tanpa Dawai, Katrol, Energi VS Daya, Bola Listrik, Lengkungan Nan Kokoh, Menurun Ke Atas, Gyro Extreme, Halilintar, gorden otomatis serta panel surya.

Petugas layanan mengajak santri bermain dan memberikan informasi edukasi berkaitan dengan fungsi dari masing-masing alat peraga. Alat peraga favorit siswa adalah Gyro xtreme. Alat ini dikembangkan oleh NASA untuk mempersiapkan astronot ke luar angkasa, dan seolah-olah membuat siswa seperti astronot. Peraga interaktif ini juga digunakan sebagai alat terapi pada tulang belakang.

Selain berkunjung ke Layanan PP-IPTEK rombongan juga berkunjung ke layanan umum. Di akhir kunjungan pengelola layanan memperkenalkan salam literasi dengan berfoto bersama dan dibalas santri dengan salam 30 juz. Ustazah Indah Sari dan Kartini menyampaikan terima kasih atas layanan yang telah diberikan. ***


Selasa, 18 Juli 2023

Gubernur Andi Sudirman Sulaiman Ajak Masyarakat Berkunjung ke Layanan Perpustakaan Ibu & Anak

Sarana Permainan Outdoor di Gedung Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan (Dispus Arsip Sulsel) pagi ini pada 30 Zulhijjah 1444 H (18/07/2023) diresmikan Ketua Tim Penggerak PKK Prov. Sulsel Naoemi Octarina di dampingi Gubernur Andi Sudirman Sulaiman (ANDALAN) dan Ir. H. Andi Parenrengi, M.P beserta Ibu di Jalan Lanto Dg. Pasewang No. 1 Makassar.

Layanan Perpustakaan Ibu & Anak merupakan salah satu Program Prioritas yang hadir untuk mencerdaskan anak-anak ANDALAN Provinsi Sulawesi Selatan. Program ini bentuk perhatian Bapak Gubernur Andi Sudirman Sulaiman terhadap pengembangan literasi dan budaya baca masyarakat di Sulawesi Selatan.

Di depan awak media Gubernur Andalan mengajak seluruh masyarakat berkunjung dan menikmati layanan perpustakaan Ibu & Anak yang telah dilengkapi sarana permainan outdoor dan sebagai salah satu upaya orang tua untuk mengurangi penggunaan gadget yang terlalu lama bagi anak melalui berbagai permainan edukasi yang telah disediakan di perpustakaan ini.

Di kesempatan yang sama Kepala UPT. Perpustakaan Kaharullah, SE., M.M. menjelaskan layanan ini terbuka dari hari Senin hingga hari Minggu dan kami juga memberikan layanan story telling (mendongeng) serta layanan lainnya yang dapat dinikmati dengan berkunjung kesini. (***)


Selasa, 11 Juli 2023

PUTRI YANG TEKUN

Pada zaman dahulu di sebuah dusun, berdiamlah sepasang suami istri yang mempunyai seorang putri yang sangat disayangi. Suami istri ini penghidupannya sejak dahulu sampai memasuki usia tua hanyalah bertani. Putri tunggalnya itu apabila kedua orang tuanya telah turun ke ladang, maka ia tinggal di rumah mempersiapkan makanan yang tidak terlalu mewah.

Rumah mereka beserta perabotnya sangat sederhana kalau tidak dapat dikatakan sangat berkekurangan. Mereka tidak memiliki meja dan kursi, kalau ada tamu cukup dihamparkan tikar pandan sebagai penghormatan menyambut tamunya. Di atas tikar itulah mereka duduk sambil berbincang-bincang dengan tamunya  yang datang sekali-sekali bahkan sangat jarang. Kesibukan mengurus rumahnya yang sangat sederhana itu tidak menyita waktu terlalu banyak bagi sang putri, sehingga sisa waktunya dipergunakan menenun kain sarung.

Apabila kain sarungnya telah selesai ditenun, dititipkannyalah kepada ibu-bapaknya yang sering ke pasar menjual hasil ladangnya. Dari harga sarungnya ini ia kembali memesan keperluan dirinya pribadi sebagai keperluan seorang gadis remaja. Ada kalanya ia memesan kain kebaya, kudung. bedak dan lain-lainnya. Dapatlah dikatakan bahwa hampir semua keperluannya sebagai seorang gadis ditanggulanginya sendiri. 

la sadar bahwa harga hasil ladang orang tuanya tidak cukup untuk memenuhi keperluannya sebagai seorang gadis karena hasil ladangnya yang dijual memang tidak seberapa banyak. Harga penjualan hasil ladang itu cukup hanya pembeli ikan, garam dan beberapa kebutuhan hidup lainnya. Demikianlah keadaan hidup sepasang suami - istri ini beserta putri tunggalnya berjalan beberapa tahun lamanya.

Berdekatan dengan ladang garapan petani ini terdapat pula sebidang ladang yang digarap oleh seorang pemuda. Pemuda ini kelihatannya sangat tekun bekerja dan ada ciri-ciri sebagai seorang pemuda yang berpendidikan. Hal ini dapat diketahui sebab apabila ia diajak berbincang-bincang pengetahuannya sangat luas dan dalam. Lebih-lebih mengenai masalah ke masalah keagamaan sangat banyak dan luas pengetahuannya. 

Bukan saja ketekunan kerja dan pengetahuannya yang luas yang mengagumkan petani ini, tetapi pemuda ini juga sangat alim dan melaksanakan shalat lima waktu di mana saja ia berada. Di tengah ladang, tepi hutan, pokoknya asal waktu shalat telah tiba, tanpa menunda-nunda waktunya ia melaksanakan shalat di tempat itu. Pendek kata penilaian petani ini terhadap pemuda kenalannya sangat positif dan dikagumi.

Tetapi di samping kekagumannya itu, petani ini juga merasa heran dan bertanya-tanya pada dirinya tentang beberapa tingkah laku pemuda kenalannya ini yang dinilainya tidak biasa dilakukan oleh orang banyak. la ingin tanyakan kepada pemuda itu tapi ia khawatir jangan-jangan pemuda itu tersinggung atau merasa terganggu. Karena kekhawatirannya inilah sehingga petani itu selalu mengurungkan maksudnya untuk menanyakan langsung kepada pemuda kenalannya tentang beberapa perbuatannya yang aneh-aneh itu. Tetapi semua pertanyaan ini akhirnya terjawab oleh putri tunggalnya dengan secara kebetulan. 

Adapun kisahnya adalah sebagai berikut:

Seperti biasa petani ini menjelang matahari akan terbenam ia pulang ke rumahnya dari ladang. Petang itu kebetulan putrinya sedang berada di belakang pintu memperbaiki lampu minyak yang akan dipasangnya karena sudah mulai gelap. Tanpa diketahui bahwa putrinya ada di belakang pintu, petani ini mendorong daun pintu sehingga mengenai punggung putrinya. Untung saja lampu minyak yang dipegangnya tidak terjatuh. 

Maka putrinya mengatakan kepada bapaknya, "Lain kali apabila Bapak akan masuk rumah sebaiknya Bapak mengucapkan salam, Assalamu Alikum, barulah Bapak mendorong daun pintu." Maka menjawablah petani itu. "Tadi memang saya dipesan pemuda kenalan saya, bahwa kalau Bapak akan memasuki sesuatu rumah hendaklah memberi salam sebelum masuk".

Maka bertanyalah putrinya. "Siapakah kenalan Bapak itu ?" Petani menjawab, "la adalah seorang pemuda yang tekun, alim dan sangat luas pengetahuannya. Saya sangat kagum atas kepintaran, ketekunan dan kealimannya. Hanya saya menaruh curiga dan heran melihat beberapa tingkah lakunya yang aneh-aneh, Saya sendiri tidak mampu memecahkan akan beberapa tingkah lakunya yang aneh-aneh itu." 

Maka putrinya bertanya lagı. "Apa sebabnya sehingga Bapak mengatakan bahwa perbuatan pemuda itu aneh-aneh?". Petani itu berkata "Coba pikirkan, mula-mula pada suatu waktu kami berdua masuk hutan untuk mencari buah-buahan yang dapat dimakan. Sebelum masuk hutan ia memakai tudungnya dan diikatnya erat-erat. Sedangkan saya sendiri membuka tudung saya karena dalam hutan tidak kena terik panas matahari. Kedua kalinya, saya akan menyeberangi sungai, saya tanyai dia apakah air sungai ini dalam atau dangkal. Disuruhnya saya menduga dalamnya air sungai itu dengan telunjuk saya. Ketiga kalinya pernah pula saya tanyai mengenal waktu Dzuhur, Ashar dan Maghrib apabila sudah sama tiba saatnya untuk shalat. Maka dijawab untuk Dzuhur apabila saya menginjak teman. Untuk Ashar apabila sudah sama panjang dengan saya. Untuk magrib apabila teman sudah pergi meninggalkan saya. Ke semuanya ini menjadi tanda tanya lagi, saya apa makna kata-katanya dan perbualannya itu tadi."

Putrinya tersenyum sambil berkata, "Semua tindakan dan ucapan pemuda itu adalah benar. Betul-betul ia seorang pemuda yang sangat dalam ilmunya. Baiklah saya jelaskan satu persatu apa yang dimaksudkan hal itu. Adapun mengenai memakai tudung di dalam hutan sedangkan matahari tidak bersinar terik tetapi harus disadari bahwa sering terjadi ada ular besar berada di atas pohon dan apabila ada orang atau binatang yang lewat di bawah pohon maka segeralah ia mematuknya dari atas. Kalau orang memakai tudung tentu dapat tertahan oleh tudung yang kita pakai dari pagutan ular itu. Selain itu siapa tahu ada dahan kayu yang patah, dapat saja mengenai kepala atau badan kita. Tetapi kalau ada tudung, setidak-tidaknya dapat saja menahan dahan yang patah itu dan tidak mengenai langsung kepala kita. Begitu pula di atas pohon banyak burung yang bersarang atau bertengger. Karena dia di atas pohon, dapat saja memberaki kita di bawah dan ini merupakan najis bagi kita. Gunanya diikat erat-erat agar walaupun kita lari tudung itu tidak akan jatuh atau terlepas dari kepala kita."

Mengenai telunjuk yang disuruh menduga dalamnya air itu memang benar. Hanya yang dimaksud telunjuk di sini ialah tongkat yang Bapak selalu bawa.

Sedangkan mengenai saat masuknya waktu Dzuhur yang diberi tanda menginjak teman ialah pada waktu kita injak bayang-bayang kita. Pada waktu itu matahari tepat ada di atas kepala kita. Itulah saat masuknya waktu shalat Dzuhur itu.

Mengenai waktu Ashar diberıkan tanda apabila teman kita sudah sama panjang dengan kita, artinya apabila bayang-bayang kita sudah sama panjangnya dengan diri kita sendiri. Apabila hal ini sudah terjadi, berarti untuk shalat Ashar sudah tiba. 

Sedangkan saat untuk shalat Magrib dikatakan apabila teman kita sudah meninggalkan kita. Artinya apabila matahari sudah terbenam, pada saat itu tentu sudah tidak ada pula bayang-bayang kita. Itulah tanda tibanya saat untuk shalat Magrib. Jadi apa yang dilakukan dan dikatakan pemuda itu semuanya benar dan tepat. Hanya untuk mengartikannya memerlukan pengetahuan yang dalam."

Maka sangat kagumlah petanı itu setelah mendengarkan penjelasan putrinya. Petani ini bermaksud akan mengundang pemuda itu datang ke rumahnya karena kekagumannya terhadap kepintaran pemuda itu.

Tetapi sebenarnya di samping kekaguman petani ini kepada pemuda itu, ia pun sangat kagum terhadap putrinya yang dapat menafsirkan semua perbuatan dan perkataan pemuda itu. Petani heran dari mana pula putrinya mendapat ilmu untuk menafsirkan kata-kata dan ucapan pemuda itu. Sesungguhnya putri petani sudah lama mengenal pemuda itu yang seorang santri ia sering meminjam buku untuk dibaca dan dipelajarinya. Dengan kata lain bahwa satu guru mereka berdua, sehingga ilmunya juga dapat bersesuaian.

Barulah kemudian ketahuan bahwa putrinya pada waktu-waktu senggang di rumahnya ia belajar sendiri, mula-mula belajar mengenal huruf dan setalah pintar membaca diusahakannya meminjam buku dari orang dikenalnya. Sesungguhnya putri petani sudah lama mengenal pemuda itu yang seorang santri ia sering meminjam buku untuk dibaca dan dipelajarinya. Dengan kata lain bahwa satu guru mereka berdua, sehingga ilmunya juga dapat bersesuaian. 

Memang dua kali dalam sepekan putri ini sering pula meminta kepada orang tuanya agar diizinkan pergi mengikuti pengajian di salah satu pesantren yang ada dekat kampungnya itu. Tetapi orang tuanya tidak akan mengira bahwa putrinya sudah demikian hebat ilmunya. Setelah peristiwa ini terjadi barulah petani mengetahui dan mengagumi kepintaran putrinya. Dalam serba kekurangan dan kesibukan mengurus rumah, masih sempat menuntut ilmu terutama ilmu keagamaan. Disinilah pula putri petani ini berkenalan dengan pemuda yang dimaksud oleh petani itu. 

Disingkatkan cerita, Santri ini sudah menjadi sahabat dengan keluarga petani yang kita sebutkan dalam cerita ini. Persahabatan mereka makin lama makin akrab akhirnya putri petani ini dikawinkan dengan santri yang dimaksud tadi. Beberapa waktu setelah mereka kawin, kebetulan pula imam di kampung itu meninggal dunia. Maka sepakatlah penduduk di kampung itu mengangkat Santri ini menjadi imam di kampung itu. 

Bersama aparat pemerintah lainnya ia membina kampungnya sehingga perbuatan-perbuatan maksiat dapat dihilangkan dan menjadilah kampungnya aman, tenteram dan makmur. 

Demikianlah akhir dari cerita ini yang berkesudahan dengan hasil yang gemilang. 

Kesimpulan informan : 

  1. Informan mendengar cerita ini dari pamannya tempat ia menumpang waktu kecil. Pamannya ini bekerja sebagai guru agama pada sebuah sekolah dasar di kampung pamannya. 
  2. Cerita ini sangat berkesan pada diri informan termasuk beberapa kawan cerita ini. 
  3. Cerita ini sangat baik untuk disampaikan kepada pemuda pemudi yang malas belajar agar tekun dalam menuntut ilmu. Kesibukan dan kemiskinan bukanlah alasan yang harus dipegang untuk menuntut ilmu. 
  4. Pekerjaan bertani itu bukanlah pekerjaan yang hina, karena kalau petani tidak ada, rakyat banyak tak dapat makan. 
  5. Agama terutama shalat lima waktu haruslah dilaksanakan di mana saja kita berada. Tidak ada alasan untuk menunda waktu sembahyang karena belum tiba di mesjid atau di rumah. Dalam cerita ini nyata bahwa di tengah ladang, di tepi hutan apabila tiba saatnya untuk shalat maka pemuda itu melaksanakan shalatnya.
Kesimpulan Pewawancara : 
Sesuai hasil wawancara dari beberapa anggota masyarakat masyarakat trmasukinforman, berpendapat bahwa: 
  1. Cerita ini baik dijadikan bahan pendidikan dalam hal ketekunan belajar, taat beragama dan tahu mempergunakan waktu senggang
  2. Hidup rukun berumah tangga haruslah ada kerja sama yang baik dan saling pengertian yang sesuai. Dalam cerita ini petani turun ke ladang sambil dibantu oleh istrinya sedangkan anaknya mengurus rumah tangganya. Pekerjaan yang berat terasa ringan dan dapat diselesaikan semuanya. 
  3. Cerita ini tersebar di beberapa kampung yang mempergunakan bahasa Bugis. 
  4. Alangkah baiknya apabila cerita ini diolah kembali, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku bacaan di sekolah dan di masyarakat.

Nama Informan: Abdul Rauf
Tempat Lahir: Gowa
Usia: 42 Tahun
Agama: Islam
Pekerjaan: Pegawai Negeri
Pendidikan: S.M.P
Bahasa yang dikuasai: Makassar

Sumber:
Cerita Rakyat Makassar
(Mite dan Legenda) Daerah Sulawesi Selatan
Editor: Bambang Suwondo
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1987


Jumat, 07 Juli 2023

TAMBA LAULUNG (LALAT HIJAU YANG BESAR)

Pada zaman dahulu di suatu kampung yang bernama Tanra', rakyatnya hidup tenteram dan damai karena kemakmurannya. Pada umumnya penduduk kampung ini kaya raya. Sebagai pertanda bahwa rakyat kaya, sering terjadi seekor kutu kepala ditukarkan dengan seekor kerbau. Adapun nama Tanra' ini berasal dari kata ta' rarang yang berarti tanpa balung yang ada di atas kepala ayam jantan, sebab rakyatnya sering disabung seperti ayam.

Pada masa kejayaan ini hiduplah seorang cendekiawan lagi budiman dan pandai bertukang seperti pandai emas, sehingga orang tersebut digelar "Panri" kependekan dari kata "Panrita" yang berarti orang pandai. Karena hanya satu satunya orang yang demikian di Tanrara' maka digelarlah "Panri Tanrara'." Karena rakyat Tanrara' sangat senang kepadanya, maka diangkatlah ia menjadi kepala kampung di sana dan digelar Dampang Tanrara'. Dampang Tanrara' berarti Kepala Tanrara', punya kesaktian yang luar biasa juga dimilikinya. Tetapi Panri Tanrara' ini ingin juga merasakan kehidupan orang miskin.

Pada suatu hari duduklah ia sambil termenung memikirkan bagaimana cara kalau orang mau jadi miskin. Lalu ia pun bertanya kepada orang tua-tua tentang bagaimana dan apa yang dilakukan agar menjadi orang yang paling miskin di dunia. Lalu diberitahu oleh orang tua-tua bahwa jika ingin menjadi orang yang paling miskin dan melarat, haruslah menurunkan di bawah kolong rumah karung yang lapuk bersama niru. Sambil berdoa ia pun melakukannya selama tiga minggu setiap malam Jumat. Maka terkabullah permintaannya. Ia pun jatuh miskin semiskin miskinnya sehingga pada suatu hari ia berusaha mengambil tahi bubuk dinding rumahnya untuk dijadikan makanan. Maka ia pun memukul-mukul dinding rumahnya dan apa yang terjadi, secara tiba tiba jatuhlah seuntai kalung emas dari atas. Alangkah gembira hatinya lalu dibawanya pergi akan di jual. Adapun kalung emas yang didapat itu sangat panjang kira-kira jika dipakai dapat mencapai pusar si pemakai.

Maka berjalanlah Dampang Tanrara' pergi menjual kalungnya tadi. Akhirnya tibalah ia pada suatu kampung yang bernama Tolo' (dalam Kecamatan Kelara' Kabupaten Jeneponto). Kebetulan sekali ia tiba di muka rumah Karaeng Tolo' dan di situlah Dampang Tanrara' menawarkan kalung emasnya. Pada saat itu kebetulan juga putri Karaeng Tolo' sedang berada di jendela melihat lihat ke luar. Maka terlihatlah oleh putri Karaeng Tolo' betapa indahnya kalung tersebut walaupun dilihat dari kejauhan. Putri ini adalah seorang anak yang sangat manja sehingga hampir semua kemauannya selalu dituruti oleh orang tuanya. 

Lalu dipanggilnya Dampang Tanrara' masuk ke rumahnya dan dimintanya kalung tersebut untuk dicoba di lehernya. Tetapi setelah kalung tersebut dipasangnya maka ia pun mendesak ibunya agar kalung itu dibelikan untuknya. Karena ibunya memanjakan anaknya tentulah permintaan putrinya dikabulkan.

Ditanyakannya berapa harga kalung tersebut. Mendengar pertanyaan ibu putri tersebut, maka penjual kalung itu hanya meminta kerbau sebagai tukarannya. Oleh ibu putri itu disuruh pilih saja mana yang disukai dan boleh ambil sampai lima ekor. Pada saat itu kebetulan kerbau-kerbau Karaeng Tolo' sedang merumput dekat rumahnya, semuanya besar-besar dan gemuk-gemuk kecuali hanya seekor yang kecil kerdil kurus berwarna belang. Karena Dampang Tanrara' termasuk orang yang pandai dan sakti maka terlihatlah tanda-tanda kesaktian (keluar biasaan) yang ada pada kerbau kerdil belang itu. Lalu dipilihnyalah kerbau belang itu sebagai tukaran kalungnya dan segera pamitan untuk berangkat meninggalkan kampung tersebut. Adapun kerbau yang diambil Dampang Tanrara' itu adalah kerbau kesayangan Karaeng Tolo' yang dinamai I Ballang Loe.

Pada saat pertukaran itu berlangsung Karaeng Tolo' sedang pergi berburu, jadi tidak menyaksikannya. Kira-kira sejauh dua atau tiga kampung yang dilalui oleh Panri Tanrara' menuntun kerbaunya, maka datanglah Karaeng Tolo' dan dilihatnya betapa indah kalung yang dipakai anaknya. Ia pun menanyakan tentang asal usul kalung tersebut. Oleh istrinya diceritakannya dari awal sampai akhir. Mendengar penuturan sang istri maka timbullah dalam hatinya kalau kalau kerbau kesayangannyalah yang ditukarkan kepada pemilik kalung tersebut. Maka segeralah Karaeng Tolo' bersama pengawalnya ke luar mencari kerbau kesayangannya dan ternyata betul dugaannya. Lalu disuruhlah seorang pengawal menyusul Dampang Tanrara' dan berpesan agar kerbau tadi segera dikembalikan dan akan diganti dengan beberapa ekor kerbau yang besar-besar. Dengan memacu kuda yang sangat kencangnya maka segera pula Dampang Tanrara' mengetahui akan maksud kedatangan pengawal itu. Dengan kesaktian Dampang Tanrara' menyuruh kerbaunya untuk mati sebentar dan segeralah pula sang kerbau rebah ke tanah dan terus dikerumuni oleh lalat lalat hijau yang besar. 

Sesaat kemudian tibalah sang pengawal tadi dan langsung menyampaikan pesan Karaeng Tolo'. Namun Dampang Tanrara' dalam keadaan payah sambil mengipas ngipas kerumunan lalat hijau pada kerbaunya, lalu dijawabnya bahwa putri raja lebih beruntung karena sudah mendapat kalung emas, tetapi ia sendiri menderita rugi sebab sudah kehilangan kalung, sudah payah menuntun kerbaunya tetapi akhirnya mati. Melihat kenyataan dan mendengar tutur kata Dampang Tanrara' maka sang pengawal terus kembali ke Tolo'.

Setelah sejauh mata memandang sudah tak tampak lagi sang pengawal, Dampang Tanrara' membangunkan kembali kerbaunya dan merobah namanya menjadi Tamba' Laulung yang berarti banyak sekali lalat hijau yang berkerumun. Setelah I Tamba' Laulung bangkit maka berjalanlah kedua makhluk Tuhan itu menuju Kampung Tanrara'. Setibanya di Tanrara' I Tamba' Laulung dipelihara oleh Dampang Tanrara' tubuhnya bertumbuh dengan pesatnya sehingga merupakan seekor kerbau raksasa. Sebagaimana menurut cerita orang-orang tua yang masih sempat melihat kukunya jika dimasukkan di kepala orang dewasa sebagai kopiah masih longgar dan tanduknya dapat saja seorang anak kecil masuk bersembunyi dilubangnya.

Pada suatu hari Dampang Tanrara' merasa gusar hatinya sebab ingin membajak sawahnya tetapi tak ada kerbau yang akan dipergunakan. Mengetahui kegelisahan tuannya, sang kerbau lalu menyampaikan kepada Dampang Tanrara' bahwa ia akan pergi merantau ke pulau Sumbawa untuk mencari kawan. Lalu berangkatlah I Tamba' Laulung menuju pulau Sumbawa.

Tetapi tiada berapa lama kembalilah I Tamba' Laulung dari Sumbawa dengan tangan hampa, sebab sekian banyaknya kerbau yang dihalau dari pulau Sumbawa mati lemas semuanya di laut karena tidak sanggup berenang mengarungi laut yang luas itu. Sebagai bukti bahwa I Tamba' Laulung pernah berada di pulau Sumbawa di sana didapati turunannya berupa kerbau yang berwarna belang.

Maka untuk kedua kalinya I Tamba' Laulung ingin membantu tuannya, dimintanya restu dari Dampang Tanrara' untuk pergi ke Maros mencari kawan. Setelah mendapat restu dan ijin dari Dampang Tanrara, berangkatlah I Tamba' Laulung menuju ke Maros. Adapun daerah yang didatangi ialah Kampung Simbang (terletak pada jalan jurusan Camba Maros). Terus bernaung di bawah pohon dekat rumah Karaeng Simbang. Melihat kedatangan sang kerbau ini maka Karaeng Simbang merasa sangat suka cita karena kerbau tersebut hanya merumput di dekat-dekat rumahnya dan kelihatannya sangat jinak.

Sebaliknya oleh Dampang Tanrara' merasa sangat rindu kepada kerbaunya dan ingin mengetahui dengan pasti di mana kerbaunya sedang berada. Maka naiklah ia ke bukit Balaburu' sebuah bukit di sebelah Timur Laut Ibu Kota Kecamatan Bontonompo dan langsung memandang ke seluruh penjuru dan dilihatnyalah kilauan ekor kerbaunya di Kampung Simbang. Seperti juga halnya pada waktu kerbaunya ke pulau Sumbawa ia naik ke pohon cendana yang paling besar dan tertinggi di Tanrara' sehingga ia dapat betul-betul melihat bahwa kerbaunya memang sedang berada di Sumbawa.

Setelah mengetahui tempat kerbaunya sedang berada, Dampang Tanrara' segera menuju ke sana. Setibanya di Simbang didapatinyalah kerbaunya dan terus dibelai dan diusap usap. Kemudian ia pun pergi menemui Karaeng Simbang untuk meminta kerbaunya untuk dibawa pulang. Tetapi Karaeng Simbang merasa tersinggung dan terjadilah pertengkaran yang hampir-hampir menimbulkan perkelahian, sebab Karaeng Simbang merasa bahwa I Tamba' Laulung adalah kerbaunya begitu pula Dampang Tanrara' bersitegang sebab memang dialah pemiliknya.

Untunglah bahwa pada saat itu Dampang Tanrara' pergi mengusap usap kerbaunya sambil membisiknya bahwa kapan lagi kerbaunya akan pulang ke Tanrara' dan mendengar itu maka sang kerbau pun menyabarkan tuannya dan menyuruh pulang tuannya dan berjanji akan menyusul sambil membawa teman dalam jumlah yang banyak kembali ke Tanrara'. Dipesan pula agar tuannya menyampaikan kepada semua penduduk Tanrara' untuk membuat kandang yang luas. Bila nanti ada kerbau yang masuk ke kandang kerbau setiap penduduk seberapa pun banyaknya, adalah milik yang bersangkutan. Mendengar hal ini Dampang Tanrara' pun kembali menemui Karaeng Simbang dan bersumpah sebagai berikut :

"Mulai saat ini sampai kepada anak cucuku dan seterusnya kepada turunanku semua orang Tanrara', berpantang memakai atap yang terbuat dari daun nipah. Dan barang siapa yang menggunakan daun nipah sebagai atap rumahnya akan terbakar habis dimakan api”. Mendengar sumpah. Dampang Taniara' maka Karaeng Simbang pun mengeluarkan sumpah sebagai berikut :

"Saya juga bersumpah bahwa mulai saat ini kepada anak cucuku seterusnya kepada seluruh turunanku, Orang Maros pantang memakai ramuan rumah dari bambu, dan barang siapa melanggar sumpah ini akan habis rumahnya dimakan api".

Sampai saat ini masih banyak orang Maros pantang memakai ramuan rumah dari bambu, seperti pada bagian Barat Laut Kota Maros.

Setelah saling bersumpah di antara Dampang Tanrara' dengan Karaeng Simbang, maka Dampang Tanrara' pun kembalilah ke Tanrara'. Setibanya di sana disampaikannyalah pesan I Tamba' Laulung kepada seluruh penduduk, agar segera membuat kandang kerbau yang luas. Setelah seluruh rakyat sudah membuat kandang kerbau pada tiap-tiap rumah, berangkatlah I Tamba' Laulung menuju Tanrara' dan sepanjang jalan yang dilaluinya, setiap kerbau yang dijumpainya dihalau semuanya. Namun tentu ada yang membangkang tak mau turut, sehingga ke semuanya ditanduk sampai mati. Begitulah sesampainya di danau Mawang (disebelah Utara Pabrik Kertas Gowa sekarang) I Tamba' Laulung singgah untuk berkubang dan kerbau kerbau yang membangkang ditanduknya sampai mati dan banyaklah bangkai kerbau yang mengambang di atas air danau tersebut, karena peristiwa inilah sehingga danau tersebut mendapat nama yaitu "Mawang" yang berarti mengambang atau terapung.

Sesampaínya di Tanrara' I Tamba' Laulung lalu menghalau semua kerbau masuk kandang dan pada saat itu ada kandang yang kemasukan sepuluh ekor, ada yang kemasukan hanya delapan ekor kerbau malahan ada yang sangat banyak sesuai rezekinya masing-masing pembuat kandang tersebut. Maka bergembiralah seluruh penduduk Kampung Tanrara' rezeki karena kedatangan rezeki yang begitu banyak. Sampai saat ini masih kita dapati bekas-bekas kubangan kerbau yang jumlahnya amat banyak itu. Sampai sekarang ini pula masih ada sawah yang disebut Balang Tanrara' yang luasnya kurang lebih 20 hektare merupakan bekas kubangan yang masih jelas.

Tetapi karena Tuhan Maha Kuasa, maka ke jagoan dari I Tamba' Laulung berakhir dengan diketahuinya kehebatan I Tamba' Laulung oleh seekor kerbau sakti dari Bone yang berwarna putih dan besar juga tubuhnya serta mempunyai kesaktian. Kerbau ini bernama Samparajana Bone. Dengan kesaktian Samparajana Bone menantang I Tamba' Laulung dari jauh untuk berlaga sampai mati, Dengan kesaktian pula I Tamba' Laulung menerima tantangan itu dari jauh dan saling berjanji akan bertemu di suatu tempat di perbatasan Bone dengan Gowa.

Maka pada hari yang telah disepakati oleh kedua kerbau sakti tersebut, I Tamba' Laulung pergi menemui tuannya untuk pamitan serta mohon restu lalu berangkatlah ia menuju medan laga. Adapun tempat perkelahian kedua kerbau sakti itu ialah pada sebuah lereng gunung dengan lorong yang sempit sehingga tak ada kemungkinan keduanya untuk berbalik. Pada pertarungan yang maha dahsyat itu berakhir dengan gugurnya kedua kerbau raksasa sakti dari Gowa dan Bone itu. 

Mendengar bahwa kedua ekor kerbau telah mati di medan laga, maka datanglah orang Gowa dan orang Bone untuk melihatnya. Kedatangan kedua utusan kerajaan ini hampir pula menimbulkan peperangan sebab masing-masing mengaku kerbaunya yang menang. Untunglah akhirnya terjadi perdamaian di antara keduanya setelah melihat kedua kerbau itu telah mati. Masing-masing membawa pulang kuku- kuku dan kedua tanduknya. Konon sebuah kuku yang diberikan kepada orang Tanrara' bersama sebuah sebuah tanduknya dan yang lainnya diserahkan kepada raja Gowa.

Menurut cerita bahwa kuku I Tamba' Laulung dipake sebagai kopiah pada waktu "angnaru" yakni acara Sumpa setia di hadapan raja pada upacara adat di Tanrara'.

Sayang sekali benda bersejarah ini ikut terbakar pada jaman revolusi fisik tahun seribu sembilan ratus empat puluh tujuh sewaktu membumi hanguskan kampung Tanrara' oleh tentara Belanda yang menelan kurang lebih empat ratus buah rumah yang musnah bersama ratusan jiwa melayang.

Kesimpulan informan : 
  1. Cerita ini didengar oleh informan dari banyak orang sejak ia masih kecil di kampungnya. 
  2. Hubungan Gowa dengan Sumbawa sangat erat sejak dari dulu. Beberapa bukti sejarah dapat menjelaskan, termasuk kisah Datu Museng dengan isterinya Maipa Deapati putri raja Sumbawa.
  3. Sumpah yang diucapkan dari dulu sampai sekarang masih banyak mematuhinya. 
  4. Danau Mawang sampai sekarang masih ada dan dijadikan tempat pemeliharaan ikan mas. 
  5. Bagaimana pun tegangnya suasana perselisihan tapi kalau diselesaikan dengan baik akan berakhir dengan penuh kedamaian. 
  6. Dampang Tanrara' adalah lambang pimpinan yang harus merasakan bagaimana penderitaan rakyatnya yang miskin. Dengan mengetahui penderitaan rakyatnya ia tidak rela bertindak sewenang-wenang yang menjadikan rakyat makin menderita.
  7. Cerita ini sangat terkenal ke daerah-daerah lain 
Kesimpulan pewawancara : 
  1. Cerita ini memang tersebar ke mana-mana di beberapa daerah. 
  2. Sampai sekarang masih banyak masyarakat sangat mematuhi sumpah yang telah diucapkan Dampang Tanrara'. 
  3. Danau Mawang sekarang dijadikan tempat rekreasi, pemeliharaan ikan mas yang dapat dipancing kemudian dibakar di situ. 
  4. Masyarakat di daerah ini, sangat rajin dan tekun dalam bertani dan memelihara ternak.
Nama Informan: Daeng Tata
Tempat Lahir: Takalar
Usia: 58 Tahun
Agama: Islam
Pekerjaan: Pensiunan Guru S.D.
Pendidikan: Sekolah Guru
Bahasa yang dikuasai: Makassar

Sumber: 
Cerita Rakyat Makassar
(mite dan Legenda) Daerah Sulawesi Selatan
Editor: Bambang Suwondo
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1987

Rabu, 05 Juli 2023

MANGKASARA (MAKASSAR)

Pada zaman dahulu di Sulawesi Selatan ada dua buah kerajaan Makassar yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Kedua kerajaan ini sering pula disebut kerajaan kembar Goa-Tallo.

Sebabnya sehingga disebut kerajaan kembar, karena namun kedua kerajaan ini mempunyai raja masing- masing tetapi karena persaudaraannya amat akrab sehingga mereka merasakan dirinya adalah satu. Sebagai bukti atas persaudaraannya ini, mereka mempunyai motto atau semboyan yang dalam bahasa Makassar berbunyi sebagai berikut "Se'reji ata narua karaeng", yang artinya satu hamba atau rakyat namun dua raja.

Selain semboyan yang tersebut di atas, juga dalam persaudaraan kedua kerajaan ini, dibuktikan dengan adanya tugas rangkap dari pejabat pejabatnya. Sebagai contoh dapat dikemukakan seringnya raja Tallo merangkap pula sebagai Mangkubumi dari Kerajaan Gowa seperti yang dilaksanakan oleh raja Tallo I Mallingkaan Daeng Mannyonri yang juga merangkap sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa

Disebutkan dalam sejarah Kerajaan Tallo, bahwa sewaktu I Mallingkaan Daeng Mannyonri menjadi raja di Tallo kira-kira pada abad XVII, terjadilah suatu peristiwa penting bagi Sulawesi Selatan umumnya, Kerajaan Tallo dan Gowa pada khususnya. Peristiwa penting itu ialah mulai masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan.

Menurut cerita yang hidup di tengah tengah masyarakat orang Makassar, bahwa pada zaman pemerintah I Mallingkaan Daeng Mannyonri sebagai raja di Tallo, datanglah seorang ulama ke Tallo untuk menyiarkan agama Islam. Sebenarnya ulama ini berteman tiga orang semua. Mereka berasal dari Sumatera Barat, Minangkabau menuju Sulawesi Selatan untuk menyiarkan agama Islam. Setelah tiba di Sulawesi Selatan, mereka pun membagi dirinya masing-masing. Ada yang ke Luwu, ke Tiro, Bulukumba dan seorang lainnya ke Tallo.

Ketiga ulama ini masing-masing bernama :

  1. Sulaiman Khatib Sulung, yang kemudian terkenal dengan gelar Datok Patimang.
  2. Abdul Jawad Khatib Bungsu, yang kemudian terkenal dengan gelar Datok di Tiro.
  3. Abdul Makmur Khatib Tunggal, yang kemudian terkenal dengan gelar Datok ri Bandang,

Ulama yang disebut terakhir, inilah yang datang ke Tallo.

Menurut beberapa cerita, beliau datang ke Tallo dengan mempergunakan perahu yang ajaib. Sewaktu Datok ri Bandang masih berada di laut, oleh penjaga pantai Kerajaan Tallo melihat ada sebuah perahu layar yang sangat besar menuju ke pantai. Tetapi setelah perahu besar itu dekat, tiba-tiba berubah menjadi kecil seperti sampan dan akhirnya penjaga penjaga pantai hanya melihat seorang laki-laki yang duduk di atas selembar tikar sembahyang atau sujjadah yang terus merapat ke pantai. 

Setelah orang ini tiba di pantai, terus menghamparkan tikarnya itu di atas pasir kemudian melakukan gerak rukuk, sujud, berdiri dan duduk. Penjaga pantai memperhatikan gerakan-gerakan orang ini dengan penuh keheranan. Setelah orang asing ini selesai melakukan gerakan-gerakan tadi, maka penjaga pantai segera pergi menghadap raja Tallo untuk melaporkan kejadian yang baru saja disaksikannya. Dilaporkannya secara terperinci kejadian itu sejak masih di laut sampai orang asing ini tiba di pantai serta melakukan gerakan-gerakan seperti yang disebutkan di atas.

Pada waktu itu kebetulan pula raja sedang menerima para pejabat kerajaan, para anak bangsawan serta beberapa tokoh-tokoh masyarakat Kerajaan Tallo. Setelah mendengarkan laporan penjaga pantai tadi maka raja serta hadirin lainnya sangat tertarik dan ingin pergi untuk menyaksikan apa yang dilaporkan penjaga pantai itu tadi.

Beramai ramailah mereka menuju pantai tempat mendaratnya orang asing itu. Di tengah perjalanan menuju pantai, tiba-tiba muncul orang tua yang berdiri di atas sebuah batu. Orang tua itu menanyai mereka hendak ke mana tujuannya. Maka pengawal raja berkata, "Raja bersama rombongannya akan menuju pantai untuk menemui orang asing yang baru tiba”.

Orang tua tadi meminta agar raja memberikan telapak tangannya terlebih dahulu untuk di cap. Maka raja pun memberikan telapak tangannya untuk dicap. Setelah itu raja beserta rombongannya melanjutkan perjalanannya dan orang tua tadi juga terus menghilang.

Setelah raja beserta rombongannya tiba di tepi pantai, dilihatnyalah orang asing itu sedang melakukan gerak berdiri, rukuk, sujud dan duduk berulang kali, sedang raja serta rombongannya tidak mengetahui maksud gerakan-gerakan orang asing itu.

Setelah orang asing itu tadi bersalam ke kanan dan ke kiri, dilihatnya raja beserta rombongannya yang datang memperhatikan dirinya. Maka raja pun membuka telapak tangannya memperlihatkan cap atau tulisan yang dibuat orang tua tadi.

Beberapa pendapat mengatakan sebenarnya bukan cap yang dibuat orang tua itu, melainkan adalah tulisan: "Bismillaahirrahmaanirrahiim".

Melihat tulisan itu tadi maka langsung orang asing itu mencium telapak tangan raja lalu berkata: "Di mana tempat orang yang memberikan cap atau tulisan pada telapak tangan raja?"

Maka raja pun bersama rombongan mengantar orang asing itu menuju ke tempat orang tua yang mencap telapak tangannya. Tetapi alangkah herannya karena orang tua itu sudah tidak ada di tempat itu. Orang asing itu tadi agak keheranan dan menjabat tangan raja Tallo.

Raja pun berkata: "Mengapakah tuan keheranan dan apa sebabnya sehingga tuan mengucapkan selamat kepada saya". 

Orang asing itu tadi berkata: "Selamatlah dan berbahagialah raja, karena yang mencap tangan raja itu tadi, tidak lain adalah Nabi Muhammad yang telah wafat sembilan ratus tahun yang silam".

Raja pun berkata: "Kalau demikian Akkasaraki Nabbia", artinya Nabi Muhammad mewujudkan dirinya. Dari sinilah mulainya istilah atau kata Makassar.

Kemudian raja beserta rombongannya serta orang asing itu tadi naiklah ke istana. Maka raja Tallo pun menyatakan dirinya memeluk agama Islam. Peristiwa penting ini terjadi pada malam Jum'at, 9 Jumadil-awal 1014 Hijriah atau tanggal 22 September 1605 Masehi.

Sejak raja Tallo memeluk agama Islam, beliau diberi nama Sultan Abdullah Awwalul Islam dan pada waktu mangkatnya tahun 1636 Masehi diberikan gelaran kehormatan Tumenanga ri Agamana, yang artinya Raja yang wafat dalam agamanya. Orang asing yang meng-Islam-kan raja Tallo ini tidak lain ialah Abdul Makmur Khatib Tunggal yang juga dikenal dengan gelar Datok ri Bandang.

Setelah raja Tallo Sultan Abdullah Awwalul Islam menyatakan dirinya masuk Islam maka pembesar- pembesar serta rakyat Tallo pun memeluk agama Islam pula. Kebiasaan berambut panjang dan tidak memakai baju secara halus dicegah oleh agama Islam. Karena memakai baju barulah mereka mulai biasakan dirinya sehingga masih canggung dan dirasakan agak mengganggu. Tidak heran apabila pada suatu hari sewaktu raja menjamu Datok ri Bandang, para pengawal istana karena belum terbiasa memakai baju sehingga semuanya ribut karena kepanasan. Bajunya dijumbaikan ke bawah. Datok ri Bandang yang melihat dan mendengar para pengawal gaduh, beliau pun berkata: "Itu gaduh", dalam berkata demikian itu beliau menunjuk kepada para pengawal yang ribut dan menjumbaikan bajunya ke bawah.

Karena raja tidak mengerti apa yang dikatakan Datok ri Bandang itu, dikiranya bahwa yang dimaksud Datok ri Bandang ialah baju para pengawal yang sedang terjumbai ke bawah. Dari sinilah sebabnya dan dimulainya model pakaian adat Makassar yang dinamai gadu. Model pakaian ini harus selalu ada dua helai potongan kain berjumbai ke bawah sebagai pengganti lengan baju yang dijumbaikan ke bawah pada kejadian tersebut di atas.

Sekarang dialihkan pembicaraan kepada raja Gowa I Mangngarangi Daeng Manrabia yang memerintah di Gowa pada saat itu. Setelah raja Gowa mendengar bahwa raja Tallo yang merangkap sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa dan masih paman dari raja Gowa telah masuk Islam, maka beliau pun menyatakan dirinya masuk Islam.

Gowa Demikianlah dapat dikatakan bahwa pada awal abad XVII Kerajaan Gowa dan Tallo sudah menjadi kerajaan Islam. Setelah masuk Islam, raja Gowa diberi nama Sultan Alauddin dan setelah meninggal pada 1639 Masehi beliau diberi gelar kehormatan Tumenanga ri Gaukanna artinya raja yang wafat dalam pengabdiannya. Sejak itu maka kerajaan kembar Gowa dan Tallo merupakan pusat penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan.

Karena di Kerajaan Tallo-lah mulai Datok ri Bandang menginjakkan kakinya yang berarti masuknya agama Islam melalui kerajaan ini, sehingga disebutlah sebagai pintu gerbang masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan dan itulah yang dimaksud seperti yang tersebut pada cerita ini "Timunganga ri Tallo". Makam Datok ri Bandang masih dapat kita saksikan di Kampung Kaluku Bodoa yang terletak di bagian timur laut Kota Madya Ujung Pandang.

Sedangkan makam kedua raja yang disebutkan pada cerita ini, dapat kita saksikan sekarang ini pada pekuburan raja raja Go -Tallo di desa Tamalate.

Penyebaran agama Islam pada beberapa kerajaan Bugis dilaksanakan oleh raja Gowa dan Tallo dengan berdasarkan perjanjian yang mereka telah buat bersama-sama sebagai teman sekutu.

Perjanjian itu antara lain berbunyi:

" .................barang siapa yang menemukan jalan yang lebih baik, maka ia harus memberitakannya kepada raja-raja sekutunya”. Karena ajaran agama Islam dianggap lebih baik dari pada apa yang mereka pahami dan sering lakukan, maka berkewajibanlah kedua raja tersebut di atas menyampaikan pada raja- raja sekutunya. Karena raja-raja sekutu itu memang menganggap bahwa ajaran Islam itu baik sehingga mereka pun dengan rela menerimanya.

Namun memang tak dapat disangkal adanya beberapa kerajaan yang tidak bersedia menerima kedatangan agama Islam. Kerajaan kerajaan itu antara lain :

Kerajaan Bone, Wajo, Soppeng. Karena penolakan ini sehingga raja Gowa dan Tallo memaklumkan perang kepada mereka. Berkat ketangguhan dan kekuatan pasukan pasukan Kerajaan Gowa dan Tallo, sehingga kerajaan kerajaan yang menolak tadi dapat ditaklukkan satu persatu. Soppeng takluk pada tahun 1609, Wajo pada tahun 1610 dan Bone pada tahun 1611.

Sebenarnya ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa dalam ajaran Islam disesuaikan ajaran sebelum Islam yang mereka anut ialah ajaran Dewata seuwae yang artinya Dewa yang tunggal. Konsep inilah pula yang menyebabkan sehingga agama Islam itu cepat diterima di Sulawesi Selatan.

Demikianlah sekelumit tentang cerita Mangkasara di atas yang erat hubungannya dengan masuknya agama Islam di Sulawesi Selatan dan dimulai dengan datangnya Datok ri Bandang di Tallo serta kedua temannya seperti yang disebut dalam cerita ini.

Kesimpulan Informan :
  1. Cerita ini sebenarnya adalah cukilan sejarah daerah Sulawesi Selatan yang dihubungkan dengan masuknya agama Islam di daerah ini.
  2. Tokoh Datok ri Bandang adalah tokoh mitologis yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan umumnya, daerah Makassar khususnya.
  3. Cerita sejarah ini didengar informan dari orang tua-tua dan juga di dapat dari cukilan-cukilan buku sejarah yang pernah ditulis.

Kesimpulan pewawancara :
  1. Cerita di atas adalah peristiwa sejarah yang sangat penting untuk dicatat dan disebar luaskan.
  2. Kalau dalam cerita ini seakan akan terjadi pula hal-hal yang aneh seperti kedatangan Datok ri Bandang ke Tallo dsb. Maka sebenarnya itu bukan mustahil terjadi karena Datok ri Bandang sebagai ulama besar apabila doanya diterima Tuhan semua itu dapat dilakukannya.
  3. Cerita ini sangat penting kedudukannya dalam penyebaran agama Islam.
  4. Datok ri Bandang sebagai tokoh mitologis bagi orang Makassar, diberikan penghormatan dengan mengabdikan namanya pada sebuah jalanan di Kota Madya Ujung Pandang.

Nama Informan: M. Daeng Sarro
Tempat Lahir: Ujung Pandang
Umur: 35 Tahun
Agama: Islam
Pekerjaan: guru sekolah
Pendidikan: P.G.A.
Bahasa yang dikuasai: Makassar
Alamat: Ujung Pandang

Sumber: 
Cerita Rakyat Makassar
(mite dan Legenda) Daerah Sulawesi Selatan
Editor: Bambang Suwondo
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1987



Senin, 19 Juni 2023

UPT. PERPUSTAKAAN MENYIAPKAN SARANA DAN PRASARANA RAMAH KELOMPOK RENTAN UNTUK MEMBERIKAN PELAYANAN YANG ADIL


Retno Dwi C dan Ajeng Rahmadani, Tim Kedeputian Bidang Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) di dampingi Subkor Analis Organisasi/ Sub Bagian Pelayanan Publik melakukan pemantauan dan evaluasi sarana prasarana ramah kelompok rentan pada Senin (19/06/2023) di Layanan Perpustakaan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang di terima serta diantar langsung oleh Kaharullah, S.E., M.M selaku Kepala UPT. Perpustakaan bersama Sri Wahyuni Djamaluddin, SH, M.Si dan Andi Ichwansyah, S.E.  

Kaharullah menjelaskan sarana prasarana yang dimaksud seperti area parkir khusus distabilitas; jalur landai yang cukup dilewati kursi roda; kursi roda dan tongkat; kursi tunggu prioritas yang nyaman; loket khusus kelompok rentan;  toilet khusus yang leluasa untuk kursi roda, terdapat penanda toilet khusus, toiletries, dan tempat sampah; ruang laktasi dengan dilengkapi dispenser, meja untuk mengganti popok dan sofa yang nyaman; tempat bermain anak yang aman dan nyaman; serta buku informasi layanan dengan braile dan sistem pengeras suara di area pelayanan. Selain itu Aspek pendukung layanan yakni petugas pendamping di area pelayanan, komponen standar pelayanan yang mengakomodir kelompok rentan dan inovasi yang dikembangkan terkait layanan inklusif.

Menurut Kaharullah, penyediaan sarana prasarana ramah kelompok rentan merupakan kepedulian untuk menjamin dan melindungi hak kelompok rentan dalam mendapatkan kesempatan pelayanan yang setara untuk memperoleh pelayanan publik dengan mudah, aman, nyaman, dan mandiri.

Penyediaan kelengkapan sarana dan prasarana yang telah ada sebelumnya, setelah mengikuti kegiatan Desk Evaluation Sarana Prasarana Ramah Kelompok Rentan secara virtual melalui Zoom Meeting bersama Tim Kedeputian Bidang Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) pada tanggal 19-21 Juni 2023.

Selain melihat sarana prasarana ramah kelompok rentan juga berkesempatan berbagai layanan yang disediakan seperti layanan perpustakaan umum, layanan pusat peraga Ilmu Pengetahuan Teknologi (PP-IPTEK) dan layanan deposit. Khusus di layanan PP IPTEK, pengelola layanan mengajak bermain berbagai alat peraga yang ada, seperti Tebak Tanggal Lahir, Baterai Tangan, Harpa Tanpa Dawai, Katrol, Energi VS Daya, Bola Listrik, Lengkungan Nan Kokoh, Menurun Ke Atas, Gyro Extreme, Halilintar dan gorden otomatis. (***)




Kamis, 08 Juni 2023

GYRO XTREME DAN TEBAK TANGGAL LAHIR MENJADI FAVORIT ALAT PERAGA INTERAKTIF PP IPTEK SULSEL

Kasi Layanan Pusat Peraga Ilimu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) Sri Wahyuni Djamaluddin menerima kunjungan siswa Madrasah Aliyah Muhammadiyah Bontorika yang berlokasi Desa Bontomangape Kec. Galeson Kab. Takalar pada Kamis (08/06/2023) di ruang Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

Setelah di terima secara resmi 98 orang siswa dan 4 guru pendamping, rombongan di bagi menjadi 2 (dua) kelompok yakni kelompok putra dan putri yang bergantian menikmati sarana dan prasarana layanan perpustakaan umum yang ada di lt.1 dan Layanan PP IPTEK yang ada di lt.2.

Khusus di layanan PP IPTEK, layanan ini  menyediakan berbagai alat peraga interaktif seperti  seperti Tebak Tanggal Lahir, Baterai Tangan, Harpa Tanpa Dawai, Katrol, Energi VS Daya, Bola Listrik, Lengkungan Nan Kokoh, Menurun Ke Atas, Gyro Extreme, Halilintar, gorden otomatis serta panel surya.

Petugas layanan mengajak siswa bermain dan memberikan informasi edukasi berkaitan dengan fungsi dari masing-masing alat peraga. Alat peraga favorit siswa adalah Gyro xtreme. Alat ini dikembangkan oleh NASA untuk mempersiapkan astronot ke luar angkasa, dan seolah-olah membuat siswa seperti astronot. Peraga interaktif ini juga digunakan sebagai alat terapi sakit pada tulang belakang.

Selain Gyro xtreme, alat peraga yang lainnya yang menjadi favorit adalah Tebak Tanggal Lahir, yakni sebuah permainan matematika yang sederhana tapi cukup menarik. Alat ini menggunakan aturan (kaidah) bilangan binner yang diubah ke dalam bilangan desimal dan dimainkan oleh dua orang. 

Salah seorang guru pendamping Fitri Ramadani beserta rekannya berterima kasih atas telah diterimanya dengan baik siswa-siswanya untuk mengenal perpustakaan dengan berbagai fasilitas dan sarana yang dimiliki. (***)