Jumat, 07 Juli 2023

TAMBA LAULUNG (LALAT HIJAU YANG BESAR)

Pada zaman dahulu di suatu kampung yang bernama Tanra', rakyatnya hidup tenteram dan damai karena kemakmurannya. Pada umumnya penduduk kampung ini kaya raya. Sebagai pertanda bahwa rakyat kaya, sering terjadi seekor kutu kepala ditukarkan dengan seekor kerbau. Adapun nama Tanra' ini berasal dari kata ta' rarang yang berarti tanpa balung yang ada di atas kepala ayam jantan, sebab rakyatnya sering disabung seperti ayam.

Pada masa kejayaan ini hiduplah seorang cendekiawan lagi budiman dan pandai bertukang seperti pandai emas, sehingga orang tersebut digelar "Panri" kependekan dari kata "Panrita" yang berarti orang pandai. Karena hanya satu satunya orang yang demikian di Tanrara' maka digelarlah "Panri Tanrara'." Karena rakyat Tanrara' sangat senang kepadanya, maka diangkatlah ia menjadi kepala kampung di sana dan digelar Dampang Tanrara'. Dampang Tanrara' berarti Kepala Tanrara', punya kesaktian yang luar biasa juga dimilikinya. Tetapi Panri Tanrara' ini ingin juga merasakan kehidupan orang miskin.

Pada suatu hari duduklah ia sambil termenung memikirkan bagaimana cara kalau orang mau jadi miskin. Lalu ia pun bertanya kepada orang tua-tua tentang bagaimana dan apa yang dilakukan agar menjadi orang yang paling miskin di dunia. Lalu diberitahu oleh orang tua-tua bahwa jika ingin menjadi orang yang paling miskin dan melarat, haruslah menurunkan di bawah kolong rumah karung yang lapuk bersama niru. Sambil berdoa ia pun melakukannya selama tiga minggu setiap malam Jumat. Maka terkabullah permintaannya. Ia pun jatuh miskin semiskin miskinnya sehingga pada suatu hari ia berusaha mengambil tahi bubuk dinding rumahnya untuk dijadikan makanan. Maka ia pun memukul-mukul dinding rumahnya dan apa yang terjadi, secara tiba tiba jatuhlah seuntai kalung emas dari atas. Alangkah gembira hatinya lalu dibawanya pergi akan di jual. Adapun kalung emas yang didapat itu sangat panjang kira-kira jika dipakai dapat mencapai pusar si pemakai.

Maka berjalanlah Dampang Tanrara' pergi menjual kalungnya tadi. Akhirnya tibalah ia pada suatu kampung yang bernama Tolo' (dalam Kecamatan Kelara' Kabupaten Jeneponto). Kebetulan sekali ia tiba di muka rumah Karaeng Tolo' dan di situlah Dampang Tanrara' menawarkan kalung emasnya. Pada saat itu kebetulan juga putri Karaeng Tolo' sedang berada di jendela melihat lihat ke luar. Maka terlihatlah oleh putri Karaeng Tolo' betapa indahnya kalung tersebut walaupun dilihat dari kejauhan. Putri ini adalah seorang anak yang sangat manja sehingga hampir semua kemauannya selalu dituruti oleh orang tuanya. 

Lalu dipanggilnya Dampang Tanrara' masuk ke rumahnya dan dimintanya kalung tersebut untuk dicoba di lehernya. Tetapi setelah kalung tersebut dipasangnya maka ia pun mendesak ibunya agar kalung itu dibelikan untuknya. Karena ibunya memanjakan anaknya tentulah permintaan putrinya dikabulkan.

Ditanyakannya berapa harga kalung tersebut. Mendengar pertanyaan ibu putri tersebut, maka penjual kalung itu hanya meminta kerbau sebagai tukarannya. Oleh ibu putri itu disuruh pilih saja mana yang disukai dan boleh ambil sampai lima ekor. Pada saat itu kebetulan kerbau-kerbau Karaeng Tolo' sedang merumput dekat rumahnya, semuanya besar-besar dan gemuk-gemuk kecuali hanya seekor yang kecil kerdil kurus berwarna belang. Karena Dampang Tanrara' termasuk orang yang pandai dan sakti maka terlihatlah tanda-tanda kesaktian (keluar biasaan) yang ada pada kerbau kerdil belang itu. Lalu dipilihnyalah kerbau belang itu sebagai tukaran kalungnya dan segera pamitan untuk berangkat meninggalkan kampung tersebut. Adapun kerbau yang diambil Dampang Tanrara' itu adalah kerbau kesayangan Karaeng Tolo' yang dinamai I Ballang Loe.

Pada saat pertukaran itu berlangsung Karaeng Tolo' sedang pergi berburu, jadi tidak menyaksikannya. Kira-kira sejauh dua atau tiga kampung yang dilalui oleh Panri Tanrara' menuntun kerbaunya, maka datanglah Karaeng Tolo' dan dilihatnya betapa indah kalung yang dipakai anaknya. Ia pun menanyakan tentang asal usul kalung tersebut. Oleh istrinya diceritakannya dari awal sampai akhir. Mendengar penuturan sang istri maka timbullah dalam hatinya kalau kalau kerbau kesayangannyalah yang ditukarkan kepada pemilik kalung tersebut. Maka segeralah Karaeng Tolo' bersama pengawalnya ke luar mencari kerbau kesayangannya dan ternyata betul dugaannya. Lalu disuruhlah seorang pengawal menyusul Dampang Tanrara' dan berpesan agar kerbau tadi segera dikembalikan dan akan diganti dengan beberapa ekor kerbau yang besar-besar. Dengan memacu kuda yang sangat kencangnya maka segera pula Dampang Tanrara' mengetahui akan maksud kedatangan pengawal itu. Dengan kesaktian Dampang Tanrara' menyuruh kerbaunya untuk mati sebentar dan segeralah pula sang kerbau rebah ke tanah dan terus dikerumuni oleh lalat lalat hijau yang besar. 

Sesaat kemudian tibalah sang pengawal tadi dan langsung menyampaikan pesan Karaeng Tolo'. Namun Dampang Tanrara' dalam keadaan payah sambil mengipas ngipas kerumunan lalat hijau pada kerbaunya, lalu dijawabnya bahwa putri raja lebih beruntung karena sudah mendapat kalung emas, tetapi ia sendiri menderita rugi sebab sudah kehilangan kalung, sudah payah menuntun kerbaunya tetapi akhirnya mati. Melihat kenyataan dan mendengar tutur kata Dampang Tanrara' maka sang pengawal terus kembali ke Tolo'.

Setelah sejauh mata memandang sudah tak tampak lagi sang pengawal, Dampang Tanrara' membangunkan kembali kerbaunya dan merobah namanya menjadi Tamba' Laulung yang berarti banyak sekali lalat hijau yang berkerumun. Setelah I Tamba' Laulung bangkit maka berjalanlah kedua makhluk Tuhan itu menuju Kampung Tanrara'. Setibanya di Tanrara' I Tamba' Laulung dipelihara oleh Dampang Tanrara' tubuhnya bertumbuh dengan pesatnya sehingga merupakan seekor kerbau raksasa. Sebagaimana menurut cerita orang-orang tua yang masih sempat melihat kukunya jika dimasukkan di kepala orang dewasa sebagai kopiah masih longgar dan tanduknya dapat saja seorang anak kecil masuk bersembunyi dilubangnya.

Pada suatu hari Dampang Tanrara' merasa gusar hatinya sebab ingin membajak sawahnya tetapi tak ada kerbau yang akan dipergunakan. Mengetahui kegelisahan tuannya, sang kerbau lalu menyampaikan kepada Dampang Tanrara' bahwa ia akan pergi merantau ke pulau Sumbawa untuk mencari kawan. Lalu berangkatlah I Tamba' Laulung menuju pulau Sumbawa.

Tetapi tiada berapa lama kembalilah I Tamba' Laulung dari Sumbawa dengan tangan hampa, sebab sekian banyaknya kerbau yang dihalau dari pulau Sumbawa mati lemas semuanya di laut karena tidak sanggup berenang mengarungi laut yang luas itu. Sebagai bukti bahwa I Tamba' Laulung pernah berada di pulau Sumbawa di sana didapati turunannya berupa kerbau yang berwarna belang.

Maka untuk kedua kalinya I Tamba' Laulung ingin membantu tuannya, dimintanya restu dari Dampang Tanrara' untuk pergi ke Maros mencari kawan. Setelah mendapat restu dan ijin dari Dampang Tanrara, berangkatlah I Tamba' Laulung menuju ke Maros. Adapun daerah yang didatangi ialah Kampung Simbang (terletak pada jalan jurusan Camba Maros). Terus bernaung di bawah pohon dekat rumah Karaeng Simbang. Melihat kedatangan sang kerbau ini maka Karaeng Simbang merasa sangat suka cita karena kerbau tersebut hanya merumput di dekat-dekat rumahnya dan kelihatannya sangat jinak.

Sebaliknya oleh Dampang Tanrara' merasa sangat rindu kepada kerbaunya dan ingin mengetahui dengan pasti di mana kerbaunya sedang berada. Maka naiklah ia ke bukit Balaburu' sebuah bukit di sebelah Timur Laut Ibu Kota Kecamatan Bontonompo dan langsung memandang ke seluruh penjuru dan dilihatnyalah kilauan ekor kerbaunya di Kampung Simbang. Seperti juga halnya pada waktu kerbaunya ke pulau Sumbawa ia naik ke pohon cendana yang paling besar dan tertinggi di Tanrara' sehingga ia dapat betul-betul melihat bahwa kerbaunya memang sedang berada di Sumbawa.

Setelah mengetahui tempat kerbaunya sedang berada, Dampang Tanrara' segera menuju ke sana. Setibanya di Simbang didapatinyalah kerbaunya dan terus dibelai dan diusap usap. Kemudian ia pun pergi menemui Karaeng Simbang untuk meminta kerbaunya untuk dibawa pulang. Tetapi Karaeng Simbang merasa tersinggung dan terjadilah pertengkaran yang hampir-hampir menimbulkan perkelahian, sebab Karaeng Simbang merasa bahwa I Tamba' Laulung adalah kerbaunya begitu pula Dampang Tanrara' bersitegang sebab memang dialah pemiliknya.

Untunglah bahwa pada saat itu Dampang Tanrara' pergi mengusap usap kerbaunya sambil membisiknya bahwa kapan lagi kerbaunya akan pulang ke Tanrara' dan mendengar itu maka sang kerbau pun menyabarkan tuannya dan menyuruh pulang tuannya dan berjanji akan menyusul sambil membawa teman dalam jumlah yang banyak kembali ke Tanrara'. Dipesan pula agar tuannya menyampaikan kepada semua penduduk Tanrara' untuk membuat kandang yang luas. Bila nanti ada kerbau yang masuk ke kandang kerbau setiap penduduk seberapa pun banyaknya, adalah milik yang bersangkutan. Mendengar hal ini Dampang Tanrara' pun kembali menemui Karaeng Simbang dan bersumpah sebagai berikut :

"Mulai saat ini sampai kepada anak cucuku dan seterusnya kepada turunanku semua orang Tanrara', berpantang memakai atap yang terbuat dari daun nipah. Dan barang siapa yang menggunakan daun nipah sebagai atap rumahnya akan terbakar habis dimakan api”. Mendengar sumpah. Dampang Taniara' maka Karaeng Simbang pun mengeluarkan sumpah sebagai berikut :

"Saya juga bersumpah bahwa mulai saat ini kepada anak cucuku seterusnya kepada seluruh turunanku, Orang Maros pantang memakai ramuan rumah dari bambu, dan barang siapa melanggar sumpah ini akan habis rumahnya dimakan api".

Sampai saat ini masih banyak orang Maros pantang memakai ramuan rumah dari bambu, seperti pada bagian Barat Laut Kota Maros.

Setelah saling bersumpah di antara Dampang Tanrara' dengan Karaeng Simbang, maka Dampang Tanrara' pun kembalilah ke Tanrara'. Setibanya di sana disampaikannyalah pesan I Tamba' Laulung kepada seluruh penduduk, agar segera membuat kandang kerbau yang luas. Setelah seluruh rakyat sudah membuat kandang kerbau pada tiap-tiap rumah, berangkatlah I Tamba' Laulung menuju Tanrara' dan sepanjang jalan yang dilaluinya, setiap kerbau yang dijumpainya dihalau semuanya. Namun tentu ada yang membangkang tak mau turut, sehingga ke semuanya ditanduk sampai mati. Begitulah sesampainya di danau Mawang (disebelah Utara Pabrik Kertas Gowa sekarang) I Tamba' Laulung singgah untuk berkubang dan kerbau kerbau yang membangkang ditanduknya sampai mati dan banyaklah bangkai kerbau yang mengambang di atas air danau tersebut, karena peristiwa inilah sehingga danau tersebut mendapat nama yaitu "Mawang" yang berarti mengambang atau terapung.

SesampaĆ­nya di Tanrara' I Tamba' Laulung lalu menghalau semua kerbau masuk kandang dan pada saat itu ada kandang yang kemasukan sepuluh ekor, ada yang kemasukan hanya delapan ekor kerbau malahan ada yang sangat banyak sesuai rezekinya masing-masing pembuat kandang tersebut. Maka bergembiralah seluruh penduduk Kampung Tanrara' rezeki karena kedatangan rezeki yang begitu banyak. Sampai saat ini masih kita dapati bekas-bekas kubangan kerbau yang jumlahnya amat banyak itu. Sampai sekarang ini pula masih ada sawah yang disebut Balang Tanrara' yang luasnya kurang lebih 20 hektare merupakan bekas kubangan yang masih jelas.

Tetapi karena Tuhan Maha Kuasa, maka ke jagoan dari I Tamba' Laulung berakhir dengan diketahuinya kehebatan I Tamba' Laulung oleh seekor kerbau sakti dari Bone yang berwarna putih dan besar juga tubuhnya serta mempunyai kesaktian. Kerbau ini bernama Samparajana Bone. Dengan kesaktian Samparajana Bone menantang I Tamba' Laulung dari jauh untuk berlaga sampai mati, Dengan kesaktian pula I Tamba' Laulung menerima tantangan itu dari jauh dan saling berjanji akan bertemu di suatu tempat di perbatasan Bone dengan Gowa.

Maka pada hari yang telah disepakati oleh kedua kerbau sakti tersebut, I Tamba' Laulung pergi menemui tuannya untuk pamitan serta mohon restu lalu berangkatlah ia menuju medan laga. Adapun tempat perkelahian kedua kerbau sakti itu ialah pada sebuah lereng gunung dengan lorong yang sempit sehingga tak ada kemungkinan keduanya untuk berbalik. Pada pertarungan yang maha dahsyat itu berakhir dengan gugurnya kedua kerbau raksasa sakti dari Gowa dan Bone itu. 

Mendengar bahwa kedua ekor kerbau telah mati di medan laga, maka datanglah orang Gowa dan orang Bone untuk melihatnya. Kedatangan kedua utusan kerajaan ini hampir pula menimbulkan peperangan sebab masing-masing mengaku kerbaunya yang menang. Untunglah akhirnya terjadi perdamaian di antara keduanya setelah melihat kedua kerbau itu telah mati. Masing-masing membawa pulang kuku- kuku dan kedua tanduknya. Konon sebuah kuku yang diberikan kepada orang Tanrara' bersama sebuah sebuah tanduknya dan yang lainnya diserahkan kepada raja Gowa.

Menurut cerita bahwa kuku I Tamba' Laulung dipake sebagai kopiah pada waktu "angnaru" yakni acara Sumpa setia di hadapan raja pada upacara adat di Tanrara'.

Sayang sekali benda bersejarah ini ikut terbakar pada jaman revolusi fisik tahun seribu sembilan ratus empat puluh tujuh sewaktu membumi hanguskan kampung Tanrara' oleh tentara Belanda yang menelan kurang lebih empat ratus buah rumah yang musnah bersama ratusan jiwa melayang.

Kesimpulan informan : 
  1. Cerita ini didengar oleh informan dari banyak orang sejak ia masih kecil di kampungnya. 
  2. Hubungan Gowa dengan Sumbawa sangat erat sejak dari dulu. Beberapa bukti sejarah dapat menjelaskan, termasuk kisah Datu Museng dengan isterinya Maipa Deapati putri raja Sumbawa.
  3. Sumpah yang diucapkan dari dulu sampai sekarang masih banyak mematuhinya. 
  4. Danau Mawang sampai sekarang masih ada dan dijadikan tempat pemeliharaan ikan mas. 
  5. Bagaimana pun tegangnya suasana perselisihan tapi kalau diselesaikan dengan baik akan berakhir dengan penuh kedamaian. 
  6. Dampang Tanrara' adalah lambang pimpinan yang harus merasakan bagaimana penderitaan rakyatnya yang miskin. Dengan mengetahui penderitaan rakyatnya ia tidak rela bertindak sewenang-wenang yang menjadikan rakyat makin menderita.
  7. Cerita ini sangat terkenal ke daerah-daerah lain 
Kesimpulan pewawancara : 
  1. Cerita ini memang tersebar ke mana-mana di beberapa daerah. 
  2. Sampai sekarang masih banyak masyarakat sangat mematuhi sumpah yang telah diucapkan Dampang Tanrara'. 
  3. Danau Mawang sekarang dijadikan tempat rekreasi, pemeliharaan ikan mas yang dapat dipancing kemudian dibakar di situ. 
  4. Masyarakat di daerah ini, sangat rajin dan tekun dalam bertani dan memelihara ternak.
Nama Informan: Daeng Tata
Tempat Lahir: Takalar
Usia: 58 Tahun
Agama: Islam
Pekerjaan: Pensiunan Guru S.D.
Pendidikan: Sekolah Guru
Bahasa yang dikuasai: Makassar

Sumber: 
Cerita Rakyat Makassar
(mite dan Legenda) Daerah Sulawesi Selatan
Editor: Bambang Suwondo
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1987

Tidak ada komentar:

Posting Komentar