Pahlawan wanita inspiratif dari Aceh ini turut berjuang melawan Belanda saat Perang Aceh. Kematian suaminya saat bertempur melawan Belanda membuatnya marah hingga bersumpah akan menghancurkan Belanda. Cut Nyak Dien kemudian ditangkap dan di bawa ke Banda Aceh. Karena pasukan Belanda khawatir akan kehadirannya di Aceh, beliau kemudian dibuang ke Sumedang hingga akhir hayatnya.
3. Cut Nyak Meutia – Aceh
Cut Nyak Meutia juga berasal dari Aceh. Paras cantiknya seringkali menghiasi pertempuran melawan Belanda di Aceh Utara. Beliau berjuang bersama dengan suaminya, Teuku Chik Tunong. Suaminya kemudian ditangkap dan ditembak mati Belanda. Perjuangan melawan Belanda berlanjut bersama suami barunya Pang Nanggroe. Namun, suaminya tewas terkena tembakan Belanda. Cut Meutia akhirnya berjuang sendiri bersama pasukannya hingga wafat.
4. Raden Dewi Sartika – Jawa Barat
Raden Dewi Sartika adalah salah satu tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Ketertarikannya terhadap dunia pendidikan sudah ditunjukkan sejak Dewi Sartika masih kecil. Konon, sejak kecil setelah pulang sekolah, Dewi Sartika kerap kali bermain dengan memperagakan praktik guru di sekolah, mengajari baca tulis, dan bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Hingga akhirnya anak-anak pembantu di kepatihan bisa menulis dan membaca dalam bahasa Belanda.
5. Hj. Fatmawati Soekarno – Bengkulu
Ibunda dari presiden kelima Indonesia, Ibu Megawati Soekarno Putri ini adalah istri ketiga dari Presiden pertama RI, Soekarno. Fatmawati dikenal karena jasanya menjahit bendera pusaka Sang Saka Merah Putih. Bendera yang dijahit itu dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta, 17 Agustus 1945.
6. Martha Christina Tiahahu – Maluku
Gadis yang merupakan anak sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu ini merupakan sosok pemberani. Ayahnya adalah pemimpin tentara rakyat Maluku pada saat itu. Dia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangannya. Kehadirannya di tengah-tengah pertempuran membakar semangat kaum perempuan untuk mendampingi kaum laki-laki di medan perang.
7. Nyai Ageng Serang – Yogya
Nyi Ageng Serang adalah anak dari Pangeran Ronggo Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari Kerajaan Mataram. Sepeninggal ayahnya yang wafat, beliau menggantikan kedudukan sang ayah. Saat dewasa juga Ia turut ikut berperang melawan penjajah. Berkat perjuangannya, Nyi Ageng Serang ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah pada 1974.
8. Hj. Rangkayo Rasuna Said – Jakarta
Sama seperti R.A Kartini, Rangkayo Rasuna Said juga memperjuangkan kesamaan hak pria dan wanita. Dikenal sebagai sosok pandai, cerdas dan pemberani, ia juga sangat memperhatikan kemajuan dan pendidikan untuk kaum wanita. Menurutnya, kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tapi juga harus disertai dengan perjuangan politik.
9. Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan – Yogya
Siti Walidah atau yang dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh emansipasi wanita yang juga merupakan seorang istri dari pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan. Ia seringkali menemani suaminya dalam mengembangkan ajaran Muhammadiyah. Selain itu, dirinya juga mendirikan sekolah asrama dan sekolah putri yang mengajarkan pendidikan Islam bagi perempuan.
10. Opu Daeng Risaju – Sulawesi Selatan
Pejuang wanita asal Sulawesi Selatan ini membangkitkan semangat para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Tindakannya itu membuat Belanda kewalahan dan melakukan segala upaya menangkap dan menghentikan aksinya. Opu Daeng Risaju mengalami penyiksaan oleh Belanda saat tertangkap dan wafat di usianya yang ke 84.
Perempuan Pejuang Sulawesi Selatan
Naskah mencatat sejumlah tulisan tentang riwayat perjuangan para tokoh Sulawesi Selatan, khususnya kaum perempuan jauh sebelum kemerdekaan yakni pada zaman kerajaan, hingga fase mempertahankan kemerdekaan sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tokoh pejuang perempuan Sulawesi Selatan mempunyai ciri-ciri khusus secara pribadi baik dalam perilaku maupun bertindak. Tokoh tersebut juga memiliki kesamaan perilaku dan tindak laku sosial. Kesamaan yang dimiliki walaupun pada umumnya berketurunan bangsawan, berdarah biru, jiwa kerakyatan, sifat kesederhanaan, sikap tegas, teguh penderian, bertanggungjawab, serta kemampuan/berketrampilan khusus yang dapat dilakukan secara nyata antara lain dalam strategi peran yang biasanya diakui hanya dimiliki oleh kaum laki-laki saja, disamping beliau-beliau juga adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki keluarga. Beberapa Tokoh Wanita Sulawesi Selatan di antaranya:
- Retna Kencana Arung Pancana Toa Colliq Pujie Matiroe ri Tucae, Sastrawan dan Sejarawan Kosmopolit di Abad XIX
Menceritakan sejarah kehidupan peribadi Colliq Pujie yang dilatari oleh sistem sosial dan cultural dari zaman yang diwakilinya, serta sejarah kehidupan para raja yang masih tersimpan dalam memori Colliq Pujie yang tertuang dalam lontaraq.
- Banning Arung Data, Profil Pejuang Wanita dari Bone pada Abad ke XIX
- I Tenribua Besse Kajuara, Ratu Bone: Profil Pejuang Wanita dari Bone pada abad ke XIX
- Pancai Tana Bunga Walie, Profil Wanita dalam Perjuangan Fisik Menentang Kehadiran Imperialisme dan Kolonialisme Belanda di Enrekang Massenrepulu
Bunga Walie tidak hanya dikenal keberaniannya dan kegigihannya tapi juga mempunyai kemampuan mengatur strategi perlawanan dan peran terhadap pasukan Belanda. Dalam sejarah perjuangan perlawanan masyarakat Kerajaan Massenrepulu terhadap Belanda dipimpin oleh rajanya, Pancai Tana Bunga Walie.
- Indo Caba Srikandi Masserempulu 1905-1906
Ada dua tokoh srikandi perempuan bernama Indo Caba dan I ada dua tokoh srikandi perempuan bernama Indo Caba dan Indo Ranga yang selalu membantu dan mendampingi Arung (raja) Pancai Tana Bunga Walie dalam setiap serangan laskar kerajaan terhadap pasukan Belanda bahkan Pancai Tana Bunga Walie menetapkan sebagai pemimpin laskar yang anggotanya semua wanita. Diantara keduanya Indo Caba lah yang dikisahkan sebagai yang paling berani dengan teriakan Allahu Akbar menyerbu pasukan Belanda (ketika itu Indo Caba dan masyarakat Masserempulu sudah menganut agama Islam). Indo Caba adalah juga seorang istri dan ibu seorang putri yang masih balita yang rela ia ditinggalkan demi perjuangannya mencegah Belanda merebut tanah kelahirannya.
Ada suatu keistimewaan pada Indo Caba yang dalam masyarakat Masserempulu pada zaman itu merupakan tindakan yang sangat tidak lazim dilakukan apalagi oleh seorang perempuan yaitu kepalanya digundul dan sejak itu selalu gundul sampai akhir hayatnya ketika ia gugur dalam pertempuran terakhirnya di sebuah benteng yang bernama Benteng Mandatte terletak di sebuah bukit. Laskarnya pada akhirnya tidak mampu lagi mempertahankan diri terhadap serbuan pasukan Belanda yang dengan segaja beberapa meriam menggempur Benteng Mandatte, benteng perlawanan terakhir laskar Masserempulu yang hanya bersenjatakan batu-batu gunung, tombak dan bedil-bedil kuno. Akhirnya Benteng Mandatte jatuh ketangan Belanda pada tahun 1906.
- Andi Kambo, Raja Luwu Menentang Belanda 1901-1935
Andi Kambo Raja yang memerintah di Kerajaan Luwu pada tahun 1901-1905, disebuah kerajaan yang terletak di sebelah utara Sulawesi Selatan. Perlawanan terhadap Belanda ini dimulai ketika Belanda mulai menunjukkan tanda-tanda ingin juga menaklukan Kerajaan Luwu yang diawali dengan cara-cara membujuk bahwa kalau keinginan Belanda untuk bekerjasama dipenuhi, maka kerajaan dan rakyat Luwu akan hidup sejahtera. Namun Andi Kambo tidak termakan oleh tipu muslihat Belanda itu dan melakukan persiapan menentang kedatangan kekuasaan Belanda di Luwu. Ternyata pasukan Belanda akhirnya jadi menyerang Kota Palopo, ibukota Kerajaan Luwu pada tanggal 11 September 1905 dan penyerangan itu terus berlanjut dan menjadi serangkaian pertempuran antara pasukan Belanda dan laskar Kerajaan Luwu.
Berbagai taktik dilakukan oleh pasukan Belanda untuk mematahkan semangat perlawanan Andi Kambo sampai kepada memisahkannya dengan suaminya yang ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke pulau Jawa karena ia dinyatakan sebagai otak semua perlawanan dan meninggal di tempat pembuangannya.
Sampai pada usia lanjut Andi Kambo tidak pernah surut perlawanannya terhadap Belanda sampai ia mangkat pada tahun 1935 dan digantikan oleh putra mahkota, anaknya yang bernama Andi Jemma Pattiware.
Sumber: